SINGA YANG MENJADI PERTANYAAN

 


UNTUNG, SINGA YANG MENJADI PERTANYAAN

Ketika satu foto viral membuat kita bertanya: apakah seekor satwa sedang baik-baik saja, atau kita hanya terlalu cepat menilai dari apa yang terlihat?

Ada sebuah foto yang belakangan ramai diperbincangkan.

Seekor singa bernama Untung, yang disebut berada di Batu Secret Zoo, terlihat dengan tubuh yang bagi sebagian orang tampak lebih ramping dari bayangan mereka tentang seekor singa.

Lalu internet melakukan apa yang biasa dilakukan internet.

Foto beredar.

Komentar bermunculan.

Ada yang khawatir.

Ada yang bertanya.

Ada yang menuduh.

Ada yang membela.

Dan dalam hitungan waktu, seekor singa yang mungkin sedang menjalani hari biasa di kandangnya tiba-tiba menjadi pusat perdebatan ribuan manusia yang bahkan tidak berada di sana.

Di sinilah saya justru ingin berhenti sejenak.

Bukan untuk membela.

Bukan pula untuk menuduh.

Tetapi untuk mengajukan pertanyaan yang jauh lebih penting:

Bagaimana seharusnya kita menilai kesejahteraan seekor satwa?


SATU FOTO BISA MEMICU KEPEDULIAN, TETAPI TIDAK CUKUP UNTUK MENJADI DIAGNOSIS

Kita hidup dalam zaman ketika satu gambar bisa membuat kesimpulan dalam hitungan detik.

Singa terlihat kurus.

Berarti sakit.

Tulang terlihat.

Berarti kekurangan gizi.

Duduk diam.

Berarti lemas.

Berbaring.

Berarti tidak sehat.

Padahal kehidupan biologis tidak sesederhana caption media sosial.

Tubuh seekor singa dapat terlihat berbeda bergantung pada posisi tubuh, sudut kamera, pencahayaan, usia, jenis kelamin, kondisi bulu, aktivitas, bahkan kapan foto tersebut diambil.

Karena itu, foto dapat menjadi alasan untuk bertanya, tetapi bukan otomatis jawaban.

Dan ini berlaku bukan hanya untuk satwa.

Dalam kehidupan manusia pun kita sering melakukan kesalahan yang sama.

Melihat seseorang tersenyum, lalu mengira hidupnya baik-baik saja.

Melihat seseorang diam, lalu menganggapnya sombong.

Melihat seseorang sukses, lalu mengira hidupnya tanpa masalah.

Kita sering menilai keseluruhan kehidupan hanya dari satu potongan gambar.

Padahal satu frame bukan seluruh film.


LALU, APAKAH KITA HARUS DIAM?

Tentu tidak.

Justru kepedulian publik terhadap kondisi Untung adalah sesuatu yang patut dihargai.

Karena ketika masyarakat mulai bertanya tentang kesejahteraan satwa, sebenarnya ada kesadaran baru yang sedang tumbuh:

bahwa hewan yang berada dalam perawatan manusia juga memiliki kebutuhan hidup yang harus diperhatikan.

Batu Secret Zoo sendiri merupakan bagian dari Jatim Park 2 di Kota Batu dan secara resmi memperkenalkan dirinya sebagai tempat wisata dan konservasi satwa modern. Situs resminya menyebut kawasan tersebut memiliki beragam satwa dari berbagai habitat, termasuk singa, sementara sumber lain juga mencatat keberadaan berbagai mamalia dan karnivora di sana. (Jawa Timur Park Group)

Maka pertanyaan masyarakat sebenarnya sangat wajar:

Bagaimana kondisi satwa?

Apakah kebutuhan nutrisinya terpenuhi?

Bagaimana pemeriksaan kesehatannya?

Apakah berat badannya ideal?

Bagaimana kondisi ototnya?

Bagaimana perilakunya?

Bagaimana riwayat kesehatannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih bermakna daripada sekadar:

“Kok kelihatan kurus?”


SATWA TIDAK BISA DINILAI SEPERTI FOTO PROFIL

Ini penting.

Kita tidak menilai kesehatan manusia hanya dari sebuah selfie.

Dokter tidak mengatakan:

“Wajah Anda hari ini terlihat agak kurus, berarti Anda sakit.”

Ada pemeriksaan.

Ada riwayat.

Ada pengukuran.

Ada observasi.

Ada data.

Begitu pula satwa.

Penilaian kondisi fisik idealnya melibatkan dokter hewan dan keeper yang memahami individu satwa tersebut.

Berat badan.

Body condition.

Kondisi otot.

Pola makan.

Nafsu makan.

Aktivitas.

Perilaku.

Kondisi kulit dan bulu.

Feses.

Riwayat penyakit.

Respons terhadap lingkungan.

Dan berbagai indikator kesehatan lainnya.

Karena kesehatan adalah cerita panjang, bukan satu foto.


JUSTru DI SINILAH VIRALITAS SEHARUSNYA MENJADI KESEMPATAN

Saya tidak melihat viralnya foto Untung semata-mata sebagai masalah.

Ada sisi positif yang bisa kita ambil.

Publik sedang belajar memperhatikan satwa.

Masyarakat mulai bertanya tentang animal welfare.

Orang mulai menyadari bahwa kebun binatang bukan hanya tempat manusia datang untuk melihat hewan.

Ada kehidupan di balik pagar itu.

Dan kehidupan tersebut memiliki kebutuhan.

Mereka membutuhkan makanan yang tepat.

Lingkungan yang sesuai.

Perawatan kesehatan.

Stimulasi perilaku.

Ruang yang layak.

Pengelolaan yang bertanggung jawab.

Dan perlakuan yang menghormati sifat alami masing-masing spesies.

Bahkan Batu Secret Zoo sendiri dalam pemberitaan mengenai satwa lain menunjukkan bahwa tim dokter hewan melakukan pemantauan pertumbuhan, memberikan dukungan nutrisi, serta melakukan penyesuaian lingkungan dan pakan sesuai kebutuhan spesies. (Antara News)

Artinya, diskusi tentang kesejahteraan satwa sebenarnya dapat diarahkan menjadi percakapan yang lebih ilmiah:

bukan “singa ini kurus atau tidak?”

tetapi:

“Bagaimana standar kesejahteraan satwa diterapkan dan dibuktikan?”


KITA MEMBUTUHKAN DATA, BUKAN SEKADAR DRAMA

Ini zaman ketika emosi mudah sekali menjadi bahan bakar algoritma.

Foto yang menyedihkan lebih cepat menyebar.

Judul yang membuat marah lebih cepat diklik.

Video yang memancing kontroversi lebih cepat dibagikan.

Tetapi ilmu tidak bekerja seperti itu.

Ilmu meminta kita berhenti.

Mengamati.

Mengukur.

Membandingkan.

Memeriksa.

Kemudian menyimpulkan.

Bukan sebaliknya.

Jangan mulai dari kesimpulan lalu mencari bukti untuk membenarkannya.

Mulailah dari pertanyaan.

Apa yang sebenarnya terjadi?


DAN KITA JUGA PERLU BERLAKU ADIL KEPADA PENGELOLA

Kritik publik penting.

Tetapi kritik yang baik bukan penghakiman tanpa data.

Kalau memang ada persoalan kesejahteraan satwa, masyarakat berhak meminta penjelasan.

Namun pengelola juga berhak dinilai berdasarkan fakta, bukan berdasarkan asumsi.

Karena kalau ternyata Untung sehat, maka tuduhan berlebihan adalah ketidakadilan.

Tetapi kalau ternyata memang ada masalah kesehatan atau kesejahteraan, maka klarifikasi bukan akhir dari persoalan.

Justru harus menjadi awal perbaikan.

Inilah mengapa transparansi menjadi sangat penting.


KALAU MEMANG SEHAT, TUNJUKKAN DATANYA

Saya kira ini bukan permintaan yang berlebihan.

Jika seekor satwa menjadi perhatian publik karena penampilannya, maka informasi yang menenangkan masyarakat akan jauh lebih kuat jika didukung data.

Misalnya:

berapa berat badannya?

Bagaimana body condition score-nya?

Bagaimana pola makannya?

Apakah ada pemeriksaan dokter hewan terbaru?

Apakah ada riwayat penyakit?

Bagaimana aktivitas dan perilakunya?

Tidak semua data medis harus dibuka secara berlebihan.

Tetapi informasi yang relevan dan proporsional dapat membantu masyarakat memahami keadaan sebenarnya.

Transparansi bukan tanda bahwa pengelola bersalah.

Sebaliknya, transparansi adalah cara membangun kepercayaan.


DAN JIKA MEMANG ADA MASALAH, JANGAN TAKUT MENGAKUINYA

Ini bahkan lebih penting.

Tidak ada pengelolaan satwa yang sempurna.

Satwa bisa sakit.

Bisa mengalami perubahan berat badan.

Bisa mengalami stres.

Bisa mengalami masalah perilaku.

Bisa membutuhkan perubahan pakan.

Bisa membutuhkan perubahan lingkungan.

Itu semua bagian dari pengelolaan makhluk hidup.

Yang menentukan kualitas sebuah lembaga bukan apakah mereka pernah menghadapi masalah.

Tetapi:

bagaimana mereka mengenali, merespons, dan memperbaikinya.


KARENA KEBUN BINATANG MODERN SEHARUSNYA BUKAN SEKADAR TEMPAT MENONTON HEWAN

Ini yang menurut saya perlu terus kita bicarakan.

Kalau sebuah lembaga mengelola satwa, maka ukurannya bukan sekadar:

berapa banyak pengunjung datang?

berapa banyak tiket terjual?

berapa banyak spesies yang dipamerkan?

berapa banyak foto yang dihasilkan?

Tetapi juga:

seberapa baik kehidupan satwa di dalamnya dikelola?

Apakah mereka dapat menunjukkan perilaku alami?

Apakah lingkungannya sesuai?

Apakah kebutuhan sosialnya diperhatikan?

Apakah kebutuhan nutrisi terpenuhi?

Apakah kesehatan dipantau?

Apakah interaksi dengan manusia dikendalikan?

Apakah kegiatan edukasinya benar-benar mendidik?

Karena jika kebun binatang hanya menjadi tempat manusia bersenang-senang sementara satwa menjadi objek tontonan semata, kita perlu bertanya:

siapa sebenarnya yang sedang diuntungkan?


SATWA BUKAN KONTEN

Ini bagian yang semakin penting di era media sosial.

Singa sedang makan?

Rekam.

Singa sedang tidur?

Rekam.

Singa mengaum?

Rekam.

Singa terlihat kurus?

Viral.

Singa terlihat lucu?

Viral.

Kita begitu mudah mengubah kehidupan satwa menjadi konten.

Padahal di balik setiap video ada makhluk hidup.

Mereka bukan aktor yang menandatangani kontrak untuk menghibur kita.

Mereka tidak tahu kamera sedang menyala.

Mereka tidak tahu video mereka akan menjadi bahan perdebatan.

Dan mereka tidak tahu mengapa manusia tertawa atau marah melihat mereka.

Karena itu, semakin besar kemampuan kita merekam kehidupan satwa, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk menghormatinya.


KITA JUGA HARUS BELAJAR MEMBEDAKAN EMPATI DAN PANIK

Empati berkata:

“Saya khawatir. Mari kita cari tahu.”

Panik berkata:

“Saya sudah tahu jawabannya!”

Empati membuka ruang untuk data.

Panik menutupnya.

Empati bertanya.

Panik menghakimi.

Empati ingin memperbaiki.

Panik hanya ingin menunjuk siapa yang salah.

Kita membutuhkan lebih banyak empati yang berbasis pengetahuan.


UNTUNG MUNGKIN SEDANG MENGAJARI KITA TENTANG LITERASI DIGITAL

Menariknya, persoalan Untung bukan hanya soal animal welfare.

Ia juga soal literasi digital.

Di era sekarang, setiap orang bisa menjadi penyebar informasi.

Satu foto bisa berpindah dari satu akun ke jutaan orang.

Masalahnya:

kemampuan membagikan informasi berkembang lebih cepat daripada kemampuan memverifikasinya.

Kita bisa menekan tombol share dalam satu detik.

Tetapi membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk memastikan:

Siapa yang mengambil foto?

Kapan foto diambil?

Di mana foto diambil?

Apakah fotonya terbaru?

Apa konteksnya?

Apakah ada pemeriksaan profesional?

Apakah pihak terkait sudah memberikan klarifikasi?

Ini adalah literasi digital yang sebenarnya.

Bukan sekadar bisa menggunakan media sosial.

Tetapi mampu bertanggung jawab atas informasi yang kita sebarkan.


JANGAN SAMPAI KITA MEMPERJUANGKAN HEWAN DENGAN CARA YANG TIDAK ADIL

Ini paradoks yang sering terjadi.

Kita ingin membela satwa.

Tetapi kita menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Kita ingin menghentikan eksploitasi.

Tetapi menjadikan penderitaan satwa sebagai konten.

Kita ingin meminta transparansi.

Tetapi langsung memvonis sebelum mendengar penjelasan.

Niat baik tetap membutuhkan cara yang baik.

Kepedulian tidak boleh kehilangan akal sehat.


LALU APA YANG SEHARUSNYA KITA TUNTUT?

Bukan sekadar:

“Jelaskan kenapa singanya kurus!”

Tetapi lebih luas:

“Tunjukkan bagaimana standar kesejahteraan satwa diterapkan.”

Karena persoalannya bukan hanya Untung.

Hari ini Untung.

Besok mungkin satwa lain.

Dan lusa satwa lain lagi.

Maka yang kita butuhkan bukan hanya klarifikasi terhadap satu foto.

Kita membutuhkan budaya pengelolaan satwa yang transparan, ilmiah, dan berorientasi pada kesejahteraan.


SEBAB SATWA TIDAK BISA MEMBUAT PETISI

Mereka tidak bisa datang ke depan gerbang kebun binatang membawa poster.

Tidak bisa berkata:

“Kami membutuhkan kandang yang lebih baik.”

Tidak bisa meminta:

“Tolong periksa kesehatan kami.”

Tidak bisa mengeluh:

“Kami stres.”

Mereka bergantung kepada manusia.

Dan ketika makhluk hidup bergantung kepada manusia, maka manusia memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

Kekuasaan atas kehidupan lain harus selalu diikuti tanggung jawab atas kehidupan itu.


MUNGKIN INILAH MAKNA SEBENARNYA DARI KONSERVASI

Konservasi bukan hanya menyelamatkan spesies dari kepunahan.

Bukan hanya mengembangbiakkan satwa.

Bukan hanya menjaga jumlah populasi.

Tetapi juga memastikan bahwa setiap individu yang berada dalam perawatan manusia diperlakukan dengan layak.

Karena konservasi tanpa kesejahteraan bisa kehilangan ruhnya.

Dan kesejahteraan tanpa pendidikan juga kehilangan maknanya.

Kita perlu membuat manusia semakin memahami:

mengapa satwa harus dihormati.


UNTUNG BUKAN HANYA SEEKOR SINGA

Bagi sebagian orang, Untung mungkin hanya satu nama di antara banyak satwa.

Tetapi bagi saya, foto itu menjadi pintu masuk untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih besar.

Tentang bagaimana kita melihat makhluk lain.

Tentang bagaimana kita memperlakukan kehidupan.

Tentang bagaimana kita menggunakan media sosial.

Tentang bagaimana kita membedakan fakta dan persepsi.

Tentang bagaimana kita mengkritik.

Tentang bagaimana lembaga konservasi membangun kepercayaan.

Dan tentang satu prinsip sederhana:

Jangan membuat kesimpulan lebih cepat daripada bukti.


BIARKAN FOTO MENJADI PERTANYAAN, BUKAN VONIS

Saya kira ini kalimat yang layak kita simpan.

Foto boleh membuat kita peduli.

Tetapi jangan biarkan foto membuat kita kehilangan nalar.

Kalau memang Untung sehat, semoga ia terus sehat.

Kalau ada persoalan, semoga segera diketahui dan ditangani.

Kalau masyarakat khawatir, semoga kekhawatiran itu dijawab dengan informasi yang jelas.

Kalau pengelola memiliki data, semoga transparansi dapat membangun kepercayaan.

Dan kalau ternyata ada hal yang perlu diperbaiki...

semoga keberanian untuk memperbaiki lebih besar daripada keinginan untuk mempertahankan citra.


Pada akhirnya, mungkin Untung sedang mengajarkan kita sesuatu yang sangat sederhana.

Kita tidak harus memilih antara percaya begitu saja atau menuduh begitu saja.

Kita bisa memilih jalan ketiga:

peduli, tetapi tetap kritis.

bertanya, tetapi tidak menghakimi.

memeriksa, sebelum menyimpulkan.

membela satwa, sekaligus menghormati fakta.

Karena kesejahteraan satwa terlalu penting untuk dijadikan sekadar perang komentar.

Dan seekor singa terlalu berharga untuk menjadi korban dari dua hal sekaligus:

pengelolaan yang buruk jika memang ada, atau penghakiman publik jika ternyata tidak.

Maka untuk Untung...

semoga ia baik-baik saja.

Dan untuk kita...

semoga viralnya foto ini tidak berhenti sebagai kegaduhan beberapa hari.

Semoga ia menjadi pengingat bahwa:

Ketika kita memilih memelihara kehidupan lain, kita tidak hanya mendapatkan hak untuk merawatnya. Kita juga menerima tanggung jawab untuk memastikan kehidupannya layak.

Sebab pada akhirnya...

kualitas sebuah peradaban tidak hanya terlihat dari bagaimana manusia memperlakukan manusia lain.

Tetapi juga dari bagaimana manusia memperlakukan makhluk hidup yang tidak mampu membela dirinya sendiri.

Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️๐Ÿฆ๐ŸŒฟ

Peduli satwa.
Kritis terhadap informasi.
Berani bertanya.
Tidak terburu-buru menghakimi.

Batu Secret Zoo – situs resmi

Comments

Popular Posts