KEMERDEKAAN UNTUK PARA SATWA DI INDONESIA
KAPAN KEMERDEKAAN UNTUK PARA SATWA DI INDONESIA?
Jika hutan adalah rumah, lalu apa arti kemerdekaan ketika rumah itu perlahan kita hilangkan?
Setiap bulan Agustus kita berbicara tentang kemerdekaan.
Tentang perjuangan.
Tentang pengorbanan.
Tentang hak untuk hidup bebas dan menentukan masa depan.
Bendera dikibarkan.
Lagu kebangsaan dinyanyikan.
Upacara digelar.
Dan kita kembali mengingat bahwa kemerdekaan adalah sesuatu yang sangat mahal.
Tetapi di tengah semua perayaan itu, saya sering memiliki satu pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu:
Bagaimana dengan mereka yang tidak bisa mengibarkan bendera?
Bagaimana dengan orangutan yang kehilangan pohon tempatnya bergelantungan?
Bagaimana dengan kuskus yang mendapati hutan tempat tinggalnya berubah menjadi hamparan tanah?
Bagaimana dengan burung yang kembali dari mencari makan, tetapi sarangnya sudah tidak ada?
Bagaimana dengan gajah yang jalur jelajahnya tiba-tiba berubah menjadi perkebunan?
Bagaimana dengan satwa yang tidak pernah memilih untuk masuk ke wilayah manusia, tetapi justru disebut “mengganggu” ketika rumah mereka semakin sempit?
Mereka tidak pernah meminta hutan dibuka.
Mereka tidak pernah menandatangani izin pembangunan.
Mereka tidak pernah memilih kehilangan rumah.
Tetapi mereka ikut menanggung akibat dari keputusan manusia.
KEMERDEKAAN YANG HANYA UNTUK MANUSIA?
Kita sering memahami kemerdekaan sebagai kebebasan manusia.
Dan tentu saja, manusia memiliki hak untuk hidup layak, aman, bermartabat, dan menentukan masa depannya.
Tetapi apakah kemerdekaan harus selalu berarti:
manusia bebas melakukan apa saja terhadap alam?
Kalau begitu, ada sesuatu yang perlu kita renungkan.
Karena bumi tidak hanya dihuni manusia.
Ada burung.
Ada mamalia.
Ada reptil.
Ada serangga.
Ada tumbuhan.
Ada jutaan makhluk hidup lain yang memiliki perannya masing-masing dalam ekosistem.
Mereka mungkin tidak memiliki bahasa seperti kita.
Tidak memiliki parlemen.
Tidak memiliki suara dalam rapat pembangunan.
Tidak bisa menulis petisi.
Tidak bisa datang ke kantor pemerintah untuk meminta rumahnya dikembalikan.
Tetapi mereka tetap bagian dari kehidupan.
Dan kehidupan mereka juga memiliki nilai.
BAGI SATWA, HUTAN BUKAN SEKADAR HUTAN
Bagi kita, hutan mungkin terlihat seperti kumpulan pohon.
Tetapi bagi satwa, hutan adalah:
rumah.
dapur.
tempat berlindung.
tempat berkembang biak.
jalur perjalanan.
tempat mencari pasangan.
tempat membesarkan anak.
dan seluruh kehidupan mereka.
Bayangkan jika suatu pagi kita terbangun lalu mendapati rumah kita dihancurkan.
Dapur hilang.
Tempat tidur hilang.
Jalan menuju tetangga ditutup.
Tempat bekerja berubah menjadi proyek pembangunan.
Lalu ketika kita mencoba mencari tempat lain, kita justru dianggap sebagai pengganggu.
Kurang lebih seperti itulah yang bisa terjadi pada satwa ketika habitatnya hilang.
Kita menyebutnya pembukaan lahan.
Bagi mereka, itu adalah kehilangan rumah.
MEREKA TIDAK PUNYA PILIHAN UNTUK PINDAH
Ini yang sering luput dari cara pandang kita.
Ketika manusia kehilangan rumah, setidaknya kita masih memiliki kemungkinan untuk mencari tempat lain.
Kita bisa pindah.
Menyewa.
Membangun kembali.
Mencari pekerjaan di tempat lain.
Tetapi bagaimana dengan satwa yang kehilangan habitatnya?
Mereka tidak memiliki peta.
Tidak memiliki uang.
Tidak memiliki kendaraan.
Tidak memiliki dokumen.
Dan yang paling penting:
tidak semua tempat bisa menjadi rumah bagi mereka.
Seekor satwa memiliki kebutuhan habitat tertentu.
Jenis makanan tertentu.
Suhu tertentu.
Vegetasi tertentu.
Wilayah jelajah tertentu.
Bahkan pasangan dan kelompok sosial tertentu.
Ketika habitat itu hilang, persoalannya bukan sekadar:
“Ya sudah, pindahkan saja.”
Ekosistem tidak sesederhana memindahkan barang dari satu rumah ke rumah lainnya.
KETIKA HUTAN HILANG, YANG HILANG BUKAN HANYA POHON
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Ketika sebuah kawasan hutan dibabat, kita sering menghitung berapa hektare lahan yang berubah.
Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih sulit dihitung.
Berapa banyak kehidupan yang ikut hilang?
Sarang yang hancur.
Telur yang tidak pernah menetas.
Anak satwa yang kehilangan induknya.
Sumber makanan yang menghilang.
Jalur migrasi yang terputus.
Pohon tua yang membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh.
Mikroorganisme tanah yang tidak terlihat.
Serangga yang menjadi penyerbuk.
Predator yang menjaga keseimbangan populasi.
Dan jaringan kehidupan yang selama bertahun-tahun terbentuk secara perlahan.
Hutan bukan hanya kumpulan pohon.
Hutan adalah sebuah sistem kehidupan.
Ketika satu bagian rusak, bagian lain ikut terdampak.
LALU KETIKA SATWA MASUK KE PERMUKIMAN, KITA MENYEBUTNYA “LIAR”
Ini sebuah ironi.
Kita mengambil rumahnya.
Lalu ketika ia datang ke rumah kita untuk mencari makanan, kita mengatakan:
“Satwa liar masuk ke permukiman.”
Padahal...
siapa yang sebenarnya memasuki wilayah siapa?
Tentu persoalannya tidak sesederhana menyalahkan manusia.
Ada masyarakat yang memang hidup bergantung pada lahan.
Ada kebutuhan ekonomi.
Ada pembangunan.
Ada kebutuhan pangan.
Ada pekerjaan.
Semua itu nyata.
Tetapi justru karena persoalannya kompleks, jawabannya juga tidak boleh sederhana.
Yang kita perlukan bukan sekadar:
“Jangan tebang hutan.”
Tetapi bagaimana manusia dapat memenuhi kebutuhannya tanpa menghancurkan fondasi kehidupan yang juga menopang dirinya sendiri.
KITA SERING LUPA: MANUSIA JUGA BAGIAN DARI EKOSISTEM
Ini bagian yang kadang membuat saya tersenyum getir.
Kita berbicara tentang menyelamatkan alam seolah-olah alam membutuhkan manusia.
Padahal sebenarnya:
manusialah yang sangat membutuhkan alam.
Kita membutuhkan air.
Kita membutuhkan udara.
Kita membutuhkan tanah.
Kita membutuhkan tumbuhan.
Kita membutuhkan serangga.
Kita membutuhkan hutan.
Kita membutuhkan laut.
Kita membutuhkan keanekaragaman hayati.
Ketika satu spesies menghilang, mungkin kita tidak langsung merasakan dampaknya.
Tetapi ekosistem bekerja seperti jaringan.
Kita mungkin baru menyadari pentingnya satu bagian ketika bagian itu sudah tidak ada.
KEMERDEKAAN SEHARUSNYA MEMBUAT KITA SEMAKIN DEWASA
Kemerdekaan bukan sekadar bebas melakukan sesuatu.
Kemerdekaan juga berarti mampu bertanggung jawab atas kebebasan yang kita miliki.
Kita bebas membangun.
Tetapi apakah pembangunan itu harus menghilangkan seluruh habitat?
Kita bebas memanfaatkan sumber daya alam.
Tetapi apakah semuanya harus dieksploitasi sampai habis?
Kita bebas mengembangkan ekonomi.
Tetapi apakah pertumbuhan ekonomi harus selalu dibayar dengan hilangnya kehidupan?
Kebebasan tanpa tanggung jawab bisa berubah menjadi keserakahan.
LALU, KAPAN SATWA INDONESIA MERDEKA?
Mungkin pertanyaan ini memang terdengar utopis.
Tetapi bukankah perubahan sering dimulai dari pertanyaan yang terdengar terlalu idealis?
Kapan satwa bisa hidup tanpa kehilangan habitatnya?
Kapan hutan tidak lagi dipandang hanya sebagai cadangan lahan?
Kapan pembangunan bisa berjalan berdampingan dengan perlindungan ekosistem?
Kapan manusia berhenti melihat satwa hanya sebagai objek tontonan?
Kapan kita memahami bahwa konservasi bukan sekadar menyelamatkan beberapa ekor satwa yang tersisa setelah habitatnya dihancurkan?
Dan mungkin pertanyaan yang lebih dalam:
Kapan kita menyadari bahwa kemerdekaan manusia tidak harus dibangun di atas penderitaan makhluk lain?
MEREKA TIDAK MEMINTA KITA MENJADI PAHLAWAN
Satwa tidak membutuhkan kita menjadi pahlawan super.
Mereka hanya membutuhkan kita untuk tidak terus-menerus mengambil semuanya.
Tidak semua hutan harus disentuh.
Tidak semua lahan harus dibuka.
Tidak semua ruang harus dibangun.
Tidak semua alam harus dikendalikan.
Ada ruang yang memang seharusnya dibiarkan menjadi rumah bagi kehidupan lain.
Mungkin bentuk kepedulian paling sederhana adalah belajar berkata: “cukup.”
Cukup mengambil.
Cukup mengeksploitasi.
Cukup mempersempit habitat.
Cukup menjadikan alam hanya sebagai angka dalam laporan ekonomi.
KITA TIDAK HARUS MEMILIKI SELURUH BUMI UNTUK DISEBUT MAJU
Ada cara berpikir yang menganggap kemajuan selalu identik dengan semakin banyak bangunan.
Semakin banyak jalan.
Semakin luas kawasan industri.
Semakin banyak pusat ekonomi.
Semakin sedikit ruang kosong.
Padahal mungkin ukuran kemajuan yang lebih dewasa justru sebaliknya:
Seberapa mampu kita membangun tanpa menghancurkan?
Seberapa mampu kita bertumbuh tanpa membuat kehidupan lain harus menghilang?
Seberapa mampu kita memenuhi kebutuhan manusia sambil tetap memberikan ruang bagi makhluk lain?
Karena peradaban yang benar-benar maju bukan peradaban yang mampu menguasai seluruh alam.
Tetapi peradaban yang mampu hidup berdampingan dengan alam.
ANAK-ANAK KITA NANTI AKAN BERTANYA
Saya membayangkan suatu hari nanti anak-anak kita bertanya:
“Ayah, dulu benar ada orangutan di hutan itu?”
“Dulu benar ada burung sebanyak itu?”
“Dulu benar hutan sampai sejauh sana?”
Dan kita mungkin hanya bisa menjawab:
“Dulu ada.”
Kalimat itu menakutkan.
Karena banyak kepunahan tidak terjadi dalam satu malam.
Ia terjadi perlahan.
Satu habitat berkurang.
Satu populasi menurun.
Satu spesies semakin sulit ditemukan.
Satu wilayah berubah.
Sampai akhirnya...
kita hanya mengenalnya dari gambar di buku.
Jangan sampai anak-anak kita mewarisi foto satwa, tetapi tidak mewarisi rumahnya.
KEMERDEKAAN UNTUK SEMUA KEHIDUPAN
Mungkin kita tidak akan pernah bisa membuat dunia benar-benar ideal.
Pembangunan akan terus berlangsung.
Manusia akan terus membutuhkan ruang.
Ekonomi akan terus bergerak.
Teknologi akan terus berkembang.
Tetapi kita masih memiliki pilihan tentang bagaimana semua itu dilakukan.
Kita bisa memilih pembangunan yang lebih bijaksana.
Kita bisa memperkuat kawasan konservasi.
Kita bisa menjaga koridor satwa.
Kita bisa memulihkan habitat yang rusak.
Kita bisa menghentikan perdagangan satwa ilegal.
Kita bisa mengurangi konsumsi yang tidak perlu.
Kita bisa mendidik anak-anak untuk mencintai alam bukan hanya melalui gambar di buku, tetapi melalui pengalaman nyata.
Dan yang paling sederhana:
kita bisa mulai mengubah cara pandang.
Bahwa hutan bukan tanah kosong.
Bahwa satwa bukan benda.
Bahwa alam bukan sekadar sumber keuntungan.
Bahwa kehidupan tidak hanya milik manusia.
MUNGKIN INILAH MAKNA KEMERDEKAAN YANG LEBIH DALAM
Setiap Agustus kita mengatakan:
“Merdeka!”
Mungkin sudah waktunya kita bertanya lebih jauh.
Apakah kemerdekaan hanya tentang manusia yang bebas?
Atau tentang sebuah bangsa yang mampu menciptakan kehidupan yang adil bagi seluruh makhluk yang hidup di dalamnya?
Saya tidak sedang mengatakan bahwa manusia tidak boleh berkembang.
Saya hanya ingin mengingatkan:
jangan sampai perkembangan kita menjadi alasan hilangnya kehidupan yang lain.
Sebab ketika hutan mereka hilang...
mereka kehilangan rumah.
Ketika sumber makanan mereka hilang...
mereka kehilangan kehidupan.
Ketika jalur mereka terputus...
mereka kehilangan masa depan.
Dan ketika habitat mereka benar-benar lenyap...
mereka tidak sekadar kehilangan tempat tinggal. Mereka bisa kehilangan kesempatan untuk tetap ada.
JADI, KAPAN SATWA INDONESIA MERDEKA?
Mungkin jawabannya bukan pada sebuah tanggal.
Bukan pula pada sebuah upacara.
Bukan pada sebuah slogan.
Kemerdekaan bagi satwa mungkin dimulai ketika manusia berhenti bertanya:
“Apa yang bisa kita ambil dari alam?”
dan mulai bertanya:
“Apa yang masih bisa kita sisakan untuk kehidupan lain?”
Ketika hutan tidak hanya dihitung dari nilai kayunya.
Ketika satwa tidak hanya dihitung dari nilai ekonominya.
Ketika pembangunan tidak hanya diukur dari berapa banyak yang berhasil dibangun.
Tetapi juga dari:
berapa banyak kehidupan yang berhasil kita lindungi.
Sebab mungkin ukuran peradaban yang paling tinggi bukanlah seberapa banyak yang mampu kita kuasai.
Tetapi seberapa banyak kehidupan yang mampu kita biarkan tetap hidup.
Dan jika suatu hari nanti Indonesia benar-benar ingin mengatakan bahwa kemerdekaan adalah milik seluruh kehidupan...
semoga masih ada hutan yang cukup luas untuk menjadi rumah.
Masih ada pohon yang cukup tinggi untuk menjadi tempat berlindung.
Masih ada sungai yang cukup bersih untuk menjadi sumber kehidupan.
Masih ada langit yang cukup luas untuk tempat burung terbang.
Dan masih ada satwa yang dapat hidup...
tanpa harus meminta izin kepada manusia untuk menjadi dirinya sendiri.
π³π¦§π¦ππΏ
Karena mungkin, kemerdekaan yang sesungguhnya bukan ketika manusia bebas mengambil semuanya.
Melainkan ketika manusia cukup bijaksana untuk tahu bahwa tidak semuanya adalah miliknya.
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️π±
#KemerdekaanUntukSatwa #Konservasi #SatwaIndonesia #HutanIndonesia #LingkunganHidup #PendidikanLingkungan #ArahBatin

Comments
Post a Comment