PENUNGGU HUTAN






JANGAN-JANGAN PENUNGGU HUTAN BUKAN TAKUT PADA MANUSIA, TAPI MALU MELIHAT AKHLAKNYA

Tentang penunggu pohon, manusia yang lebih takut kepada hantu daripada kerusakan alam, dan pelajaran Maulid Nabi tentang rahmah kepada seluruh makhluk.

Dipikir-pikir, ada hal menarik dari cerita tentang penunggu hutan.

Katanya, jangan sembarangan di hutan. Jangan merusak pohon. Jangan mengambil sesuatu sesuka hati. Bahkan ada yang percaya, jangan kencing sembarangan di pohon besar karena bisa mendapat gangguan.

Saya tidak sedang membuktikan benar atau tidaknya cerita tersebut. Itu bagian dari kepercayaan dan folklor masyarakat.

Tetapi ada satu pertanyaan yang menggelitik:

Kok penunggu hutannya seperti pilih-pilih korban?

Bayangkan seseorang membabat hutan.

Satu pohon.

Sepuluh.

Seratus.

Kemudian dibakar.

Habitat satwa hilang, tanah terbuka, sungai terancam.

Tetapi penunggu hutan?

Diam.

Tidak mencolek. Tidak mengejar. Tidak membuat pelaku demam.

Kemudian datang manusia biasa yang kebelet pipis dan memilih sebuah pohon.

Belum selesai mungkin sudah kena teguran.

“Makanya! Jangan sembarangan. Itu pohon ada penunggunya!”

Sebentar.

Yang satu merusak hutan, yang satu mengencingi pohon. Kok yang kedua lebih cepat kena teguran? 😅

Jangan-jangan penunggu hutan juga memahami struktur sosial.

Kalau ketemu rakyat biasa: berani.

Kalau ketemu orang besar: “Waduh, jangan cari masalah.”

Kalau begini...

Jangan-jangan bukan penunggu hutan, tetapi penunggu struktur sosial. 😂

Tentu ini satire.

Namun justru di situlah menariknya. Kadang cerita tentang makhluk gaib sebenarnya sedang membuka cerita tentang manusia.

Kita takut kepada sesuatu yang tidak terlihat, tetapi tidak cukup takut kepada sesuatu yang dampaknya nyata.

Takut kencing di pohon karena takut penunggunya marah.

Tetapi tidak takut ketika pohon ditebang.

Takut mengganggu makhluk gaib.

Tetapi tidak takut ketika satwa kehilangan rumah.

Aneh, bukan?


MUNGKIN YANG SEBENARNYA PERLU KITA TAKUTI BUKAN PENUNGGU HUTAN

Pohon tidak harus memiliki penunggu agar kita menghormatinya.

Hutan tidak harus dihuni makhluk gaib agar kita menjaganya.

Satwa tidak harus memiliki penjaga supernatural agar kita bertanggung jawab terhadap kehidupannya.

Sebab alam adalah ciptaan Allah.

Manusia diberi kemampuan mengelola, tetapi juga dibebani tanggung jawab untuk menjaga.

Maka menjaga alam seharusnya bukan karena:

“Takut nanti diganggu.”

Tetapi:

“Saya tidak ingin menjadi manusia yang merusak ciptaan Tuhan.”

Itu kesadaran yang jauh lebih tinggi.


LALU, APA HUBUNGANNYA DENGAN MAULID NABI?

Maulid bukan hanya momentum mengingat kelahiran manusia mulia.

Maulid seharusnya menjadi kesempatan bertanya:

Apa yang berubah dari akhlak kita setelah mengenal Rasulullah ï·º?

Allah menyebut Nabi Muhammad ï·º sebagai rahmat bagi seluruh alam:

ÙˆَÙ…َا Ø£َرْسَÙ„ْÙ†َاكَ Ø¥ِÙ„َّا رَØ­ْÙ…َØ©ً Ù„ِّÙ„ْعَالَÙ…ِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
QS. Al-Anbiya: 107

Rahmat bagi seluruh alam.

Maka ketika kita berbicara tentang kecintaan kepada Nabi Muhammad ï·º, rasanya tidak cukup jika cinta itu hanya berhenti pada lisan.

Selawat diucapkan.

Maulid dirayakan.

Tetapi setelah semuanya selesai...

Apakah rahmah juga ikut pulang bersama kita?


KALAU KITA BENAR-BENAR MENCINTAI NABI, APAKAH ALAM BOLEH KITA ABAIKAN?

Bagaimana mungkin kita berbicara tentang rahmah, tetapi masih mudah menyakiti?

Bagaimana mungkin kita mengaku mencintai Rasulullah ï·º, tetapi tidak peduli ketika hutan kehilangan pohonnya, satwa kehilangan rumahnya, atau sungai kehilangan kebersihannya?

Persoalan lingkungan memang kompleks. Pembangunan, ekonomi, kebutuhan masyarakat, dan pengelolaan sumber daya membutuhkan pertimbangan.

Tetapi kompleksitas tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan akhlak.

Pembangunan tetap membutuhkan batas. Kemajuan tetap membutuhkan tanggung jawab.


MUNGKIN INILAH MAULID YANG LEBIH HIDUP

Maulid bukan hanya tentang memperbanyak selawat, membuat acara, atau mendengar kisah kelahiran Nabi.

Tetapi tentang menghidupkan akhlak beliau dalam kehidupan kita.

Lebih lembut kepada manusia.

Lebih sabar.

Lebih jujur.

Lebih amanah.

Lebih menyayangi makhluk Allah.

Lebih berhati-hati menggunakan sesuatu yang bukan sepenuhnya milik kita.

Kita hidup bersama makhluk-makhluk lain di bumi ini.


JANGAN SAMPAI KITA TAKUT KEPADA HANTU, TETAPI TIDAK TAKUT KEPADA KEZALIMAN

Ada orang takut kencing di pohon karena khawatir penunggunya marah, tetapi tidak merasa bersalah ketika pohon-pohon ditebang.

Ada yang percaya alam punya penjaga, tetapi lupa bahwa alam juga layak diperlakukan dengan baik.

Maka mungkin kita perlu menaikkan level kesadaran:

Bukan hanya:

“Nanti saya diganggu.”

Tetapi:

“Jangan-jangan saya sedang menjadi sumber gangguan bagi makhluk lain.”


YANG LEBIH MENGERIKAN DARI PENUNGGU HUTAN ADALAH MANUSIA TANPA RASA RAHMAH

Bayangkan seekor satwa kehilangan rumahnya.

Ia tidak tahu apa itu izin usaha, investasi, target produksi, atau pertumbuhan ekonomi.

Ia hanya tahu:

pohon yang selama ini menjadi tempat hidupnya sudah tidak ada.

Kemudian ia berpindah dan masuk ke wilayah manusia.

Lalu kita berkata:

“Hewan itu mengganggu.”

Padahal mungkin kita yang terlebih dahulu masuk ke rumahnya.

Kita menyebut satwa liar masuk ke permukiman.

Padahal bisa jadi...

rumah mereka yang lebih dulu kita masuki.


DAN DI SINILAH CINTA KEPADA NABI MENJADI NYATA

Cinta kepada Rasulullah ï·º bukan sekadar identitas.

Cinta seharusnya melahirkan akhlak.

Kalau beliau mengajarkan rahmah, kita belajar menjadi manusia yang penuh rahmah.

Kalau beliau mengajarkan amanah, kita belajar menjaga apa yang dipercayakan kepada kita.

Bahkan ketika tidak ada manusia yang melihat.

Bahkan ketika tidak ada kamera.

Dan bahkan...

ketika tidak ada penunggu hutan yang menakut-nakuti kita.

Karena manusia yang memiliki akhlak tidak membutuhkan hantu untuk berbuat baik.


MUNGKIN PERTANYAAN TERBESARNYA BUKAN “ADA PENUNGGU HUTAN ATAU TIDAK?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting:

“Masih adakah penunggu akhlak di dalam diri kita?”

Yang menjaga tangan kita agar tidak merusak.

Yang menjaga hati kita agar tidak serakah.

Yang membuat kita berhenti sebelum bertanya:

“Kalau saya melakukan ini, siapa yang akan menjadi korban?”

Sebab bisa jadi yang perlu kita hidupkan kembali bukan rasa takut kepada makhluk gaib.

Tetapi rasa malu kepada Allah.


Maka setelah Maulid, mulailah dari hal-hal kecil:

Jangan menyakiti.
Jangan merusak.
Jangan mengambil berlebihan.
Jangan membuang sembarangan.
Jaga pohon.
Jaga sungai.
Jaga satwa.
Jaga manusia.

Sebab semuanya bagian dari amanah kehidupan.


Jadi kalau ada yang bertanya:

“Mengapa penunggu hutan tidak mengganggu orang yang membabat hutan, tetapi mengganggu orang yang kencing di pohon?”

Saya mungkin akan menjawab:

Saya tidak tahu.

Bisa jadi cerita. Bisa jadi kebetulan. Bisa jadi bagian dari kepercayaan masyarakat.

Tetapi ada satu hal yang saya tahu:

Kita tidak membutuhkan penunggu hutan untuk mengajarkan manusia agar menghormati hutan.

Kita punya akal.

Kita punya hati.

Kita punya agama.

Dan kita punya teladan bernama Muhammad ï·º.

Beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Maka mungkin ukuran kecintaan kita kepada beliau bukan hanya seberapa meriah kita memperingati Maulid.

Tetapi juga:

seberapa besar rahmah yang tumbuh setelah kita memperingatinya.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad ï·º.

Semoga yang lahir bukan hanya kegembiraan dalam perayaan, tetapi juga akhlak yang lebih hidup dalam keseharian.

Karena bumi tidak membutuhkan manusia yang hanya takut kepada penunggu hutan.

Bumi membutuhkan manusia yang takut kehilangan rasa rahmah. 🌿

Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️

#MaulidNabi #RahmatanLilAlamin #Akhlak #CintaNabi #PeduliLingkungan



Comments

Popular Posts