BELUM MERDEKA BUKAN HANYA MANUSIA
YANG BELUM MERDEKA BUKAN HANYA MANUSIA
Ketika sebuah kuskus hanya bisa diam menyaksikan rumahnya diruntuhkan mesin
Ada sebuah gambar yang sulit dilupakan.
Bukan karena gambarnya indah.
Justru karena ia menyakitkan.
Seekor kuskus berada di tengah lanskap yang perlahan kehilangan pepohonannya. Di bawahnya, sebuah ekskavator bekerja. Pohon-pohon yang selama ini menjadi rumah, tempat berlindung, mencari makan, dan mungkin seluruh dunia kecilnya, satu per satu tumbang.
Ia tidak berteriak.
Tidak bisa memprotes.
Tidak bisa menulis status.
Tidak bisa membuat petisi.
Tidak bisa mendatangi kantor pemerintah.
Ia hanya bisa diam.
Dan mungkin, dari tatapan seekor kuskus itu, kita sedang melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kisah seekor satwa.
Kita sedang melihat wajah lain dari kemerdekaan.
TERNYATA, YANG BELUM MERDEKA BUKAN HANYA MANUSIA
Kita sedang merayakan kemerdekaan.
Bendera dikibarkan.
Lagu kebangsaan dinyanyikan.
Upacara digelar.
Berbagai perlombaan diselenggarakan.
Kita berbicara tentang perjuangan para pahlawan yang mengorbankan hidup agar manusia Indonesia dapat berdiri sebagai bangsa yang merdeka.
Tetapi di tengah gegap gempita itu, saya tiba-tiba berpikir:
Bagaimana dengan mereka yang tidak pernah ikut memilih rumahnya dibongkar?
Bagaimana dengan burung yang kehilangan pohonnya?
Bagaimana dengan monyet yang kehilangan koridornya?
Bagaimana dengan kuskus yang kehilangan tempat berlindung?
Bagaimana dengan satwa yang bahkan tidak mengerti apa itu proyek, investasi, izin, target produksi, atau pertumbuhan ekonomi?
Mereka hanya tahu satu hal:
di sinilah rumah kami.
Lalu suatu hari, suara mesin datang.
Dan rumah itu hilang.
SEEKOR KUSKUS YANG TIDAK PUNYA SUARA
Video yang beredar pada Mei 2026 memperlihatkan alat berat merobohkan pepohonan di wilayah Merauke, Papua Selatan, sementara seekor satwa yang diduga kuskus masih berada di sekitar pohon yang dibuka. Rekaman tersebut memicu keprihatinan publik karena satwa tampak menghadapi hilangnya habitat di depan mata. Namun, identitas spesies secara pasti, lokasi persis, serta konteks kegiatan pembukaan lahannya belum seluruhnya terkonfirmasi secara resmi. (Repelita)
Karena itu, kita perlu berhati-hati.
Jangan mengubah sebuah video menjadi kesimpulan yang belum terbukti.
Tetapi kehati-hatian dalam memverifikasi fakta tidak berarti kita harus kehilangan kepekaan terhadap persoalan ekologis yang ditunjukkannya.
Sebab satu hal yang jauh lebih jelas:
ketika habitat hilang, satwa liar kehilangan pilihan.
HUTAN BAGI KITA MUNGKIN HANYA POHON. BAGI SATWA, ITU RUMAH.
Ini yang sering kita lupakan.
Kita melihat hutan sebagai kumpulan pohon.
Satwa melihatnya sebagai kehidupan.
Satu pohon bisa menjadi tempat tidur.
Tempat berlindung.
Tempat mencari makanan.
Tempat berkembang biak.
Tempat berpindah.
Tempat membesarkan anak.
Bahkan menjadi bagian dari jaringan kehidupan yang jauh lebih kompleks.
Karena itu, ketika satu pohon tumbang, yang hilang bukan hanya batang dan daun.
Ada rumah yang hilang.
Dan ketika ribuan pohon tumbang?
Yang hilang bukan sekadar kumpulan rumah.
Sebuah ekosistem sedang kehilangan bagian dari dirinya.
Penelitian tentang kuskus di Papua menunjukkan bahwa pembukaan hutan dapat merusak habitat dan memengaruhi keberlangsungan populasi kuskus; hilangnya pohon pakan dan tempat berlindung menjadi salah satu persoalan penting dalam konservasi satwa ini. (Garuda Kemdikdasaintek)
KITA SERING BERBICARA TENTANG PEMBANGUNAN
Dan saya tidak sedang mengatakan bahwa pembangunan itu salah.
Manusia membutuhkan jalan.
Membutuhkan pangan.
Membutuhkan energi.
Membutuhkan sekolah.
Membutuhkan rumah.
Membutuhkan pekerjaan.
Membutuhkan ekonomi yang tumbuh.
Tetapi pertanyaan pentingnya bukan:
“Apakah kita boleh membangun?”
Pertanyaan yang lebih dewasa adalah:
“Bagaimana kita membangun tanpa menghancurkan kehidupan yang tidak mampu berbicara?”
Karena pembangunan dan konservasi seharusnya tidak selalu ditempatkan sebagai dua musuh.
Yang kita perlukan adalah pembangunan yang mampu menghitung biaya ekologisnya.
Sebab tidak semua kerugian dapat dihitung dalam rupiah.
Berapa harga sebuah pohon yang telah tumbuh puluhan tahun?
Berapa harga sebuah habitat?
Berapa harga hilangnya satu spesies dari suatu kawasan?
Berapa harga hilangnya keseimbangan ekosistem?
Dan yang paling sulit:
berapa harga sebuah rumah bagi makhluk yang tidak pernah punya kesempatan untuk memilih rumah lain?
SATWA TIDAK PERNAH MEMINTA KITA MEMBERI MEREKA KEMEWAHAN
Mereka tidak meminta apartemen.
Tidak meminta taman bermain.
Tidak meminta makanan impor.
Tidak meminta kandang mewah.
Mereka hanya membutuhkan ruang untuk menjalani kehidupan alaminya.
Makan.
Bergerak.
Berkembang biak.
Berlindung.
Berinteraksi.
Dan hidup sebagaimana spesies mereka seharusnya hidup.
Itulah mengapa konservasi bukan sekadar menyelamatkan hewan dari kematian.
Konservasi adalah menjaga agar mereka tetap memiliki tempat untuk hidup.
Karena menyelamatkan seekor satwa setelah rumahnya dihancurkan hanyalah satu bagian dari pekerjaan.
Pertanyaan yang jauh lebih penting:
Mengapa rumah itu sampai dihancurkan tanpa memastikan keselamatan penghuninya?
KUSKUS BUKAN MARSUPILAMI
Sebutan “Marsupilami Indonesia” memang menarik karena bentuk kuskus mengingatkan sebagian orang pada karakter fiksi Marsupilami.
Tetapi ada perbedaan mendasar:
Marsupilami adalah tokoh fiksi.
Kuskus adalah makhluk nyata.
Dan ia hidup di ekosistem nyata.
Kuskus merupakan mamalia berkantung atau marsupial dari famili Phalangeridae yang hidup di kawasan Papua dan wilayah sekitarnya. Sejumlah jenis kuskus merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia, dan beberapa jenis memiliki status konservasi yang menjadi perhatian. (RRI.co.id)
Artinya, kita tidak sedang menyaksikan karakter kartun yang sedang kehilangan rumah.
Kita sedang menyaksikan kehidupan.
Dan kehidupan tidak seharusnya diperlakukan seperti properti yang bisa dipindahkan sesuka hati.
MERDEKA ITU BUKAN HANYA TIDAK DIJAJAH
Ini bagian yang mungkin paling mengganggu pikiran saya.
Kita sering memahami kemerdekaan secara manusia-sentris.
Merdeka berarti manusia bebas.
Merdeka berarti bangsa tidak dikuasai bangsa lain.
Merdeka berarti kita memiliki hak menentukan masa depan.
Tetapi sebagai bangsa yang merdeka, bukankah kita juga memiliki tanggung jawab?
Kalau kita merdeka, seharusnya kita semakin mampu mengendalikan keserakahan kita sendiri.
Karena penjajahan bukan hanya tentang siapa yang menguasai siapa.
Ada bentuk penjajahan lain yang lebih sunyi:
ketika kepentingan jangka pendek menguasai akal sehat.
Ketika keuntungan menguasai kepedulian.
Ketika target ekonomi menguasai keberlanjutan.
Ketika manusia merasa seluruh bumi hanya diciptakan untuk memenuhi kebutuhannya.
Barangkali inilah bentuk ketidakmerdekaan yang paling berbahaya: ketika manusia tidak lagi mampu mengendalikan dirinya sendiri.
KITA MERAYAKAN KEMERDEKAAN, TETAPI HUTAN TERUS MENYEMPIT
Ironis, bukan?
Kita memasang bendera di halaman.
Tetapi mungkin pada saat yang sama, sebuah pohon terakhir sedang tumbang di tempat lain.
Kita menyanyikan:
“Indonesia tanah airku…”
Tetapi ada satwa yang kehilangan tanah tempat ia mencari makan.
Kita berbicara tentang masa depan anak cucu.
Tetapi kita lupa bahwa mereka juga akan mewarisi hutan, sungai, laut, dan seluruh keanekaragaman hayati yang kita tinggalkan.
Maka pertanyaan tentang lingkungan sebenarnya bukan hanya pertanyaan ekologis.
Ia adalah pertanyaan moral.
KARENA GENERASI MENDATANG TIDAK BISA MEMPROTES KEPADA KITA HARI INI
Bayangkan anak kita kelak bertanya:
“Ayah, kenapa dulu hutan itu dibiarkan hilang?”
Kita mungkin menjawab:
“Dulu kami membutuhkan pembangunan.”
Lalu ia bertanya lagi:
“Tidak bisakah pembangunannya dilakukan dengan cara yang lebih baik?”
Apa jawaban kita?
Pertanyaan seperti itu seharusnya membuat kita berhenti.
Sebab generasi mendatang tidak bisa hadir dalam rapat hari ini.
Mereka tidak bisa memberikan suara.
Mereka tidak bisa mengajukan keberatan.
Mereka tidak bisa mengembalikan hutan yang sudah hilang.
Tetapi mereka akan hidup dengan keputusan yang kita buat hari ini.
DAN SATWA PUN TIDAK BISA MENGAJUKAN KEBERATAN
Ini yang membuat kisah kuskus itu terasa begitu menyakitkan.
Manusia masih memiliki banyak saluran untuk menyampaikan keberatan.
Satwa tidak.
Kita bisa berbicara.
Mereka tidak.
Kita bisa menulis.
Mereka tidak.
Kita bisa berdemo.
Mereka tidak.
Kita bisa pindah rumah dengan memilih tempat baru.
Mereka mungkin tidak punya habitat lain yang sesuai.
Karena itu, manusia yang memiliki kekuasaan justru harus menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki suara.
JANGAN MENUNGGU SATWA TERAKHIR UNTUK KEMUDIAN KITA SELAMATKAN
Kita sering punya kebiasaan aneh.
Ketika sebuah spesies masih banyak, kita menganggapnya biasa.
Ketika jumlahnya mulai berkurang, kita mulai khawatir.
Ketika hampir punah, kita membuat kampanye.
Ketika tinggal sedikit, kita membuat program konservasi.
Ketika sudah sangat langka, kita membuat dokumenter.
Lalu ketika benar-benar hilang...
kita membuat museum.
Padahal konservasi terbaik bukan selalu menyelamatkan sesuatu setelah hampir musnah.
Konservasi terbaik adalah mencegahnya sampai pada titik itu.
DAN DI SINI PENDIDIKAN MEMILIKI PERAN BESAR
Saya seorang guru.
Maka saya selalu melihat persoalan lingkungan bukan hanya sebagai persoalan kehutanan.
Saya melihatnya sebagai persoalan pendidikan.
Karena anak-anak perlu belajar bahwa hutan bukan sekadar materi dalam buku IPA.
Kuskus bukan sekadar nama spesies.
Keanekaragaman hayati bukan sekadar istilah dalam ujian.
Ekosistem bukan sekadar diagram rantai makanan.
Semuanya adalah kehidupan nyata.
Anak perlu belajar bahwa ketika satu organisme hilang, hubungan dalam ekosistem dapat berubah.
Ketika habitat rusak, satwa kehilangan ruang hidup.
Ketika hutan dibuka tanpa perencanaan ekologis yang baik, dampaknya bisa menjalar jauh melampaui batas lokasi proyek.
Dan yang paling penting:
manusia bukan penguasa tunggal bumi. Kita adalah bagian dari ekosistem.
JANGAN HANYA AJARI ANAK MENGENAL NAMA HEWAN
Ajari mereka bertanya:
Di mana mereka hidup?
Apa yang mereka makan?
Mengapa mereka membutuhkan habitat itu?
Apa yang terjadi jika habitatnya hilang?
Apa yang bisa dilakukan manusia?
Karena literasi lingkungan bukan hanya kemampuan mengenali nama spesies.
Literasi lingkungan adalah kemampuan membaca hubungan antara manusia, alam, dan kehidupan.
Dan mungkin anak-anak kita perlu belajar satu hal penting:
bahwa menjadi manusia paling cerdas di bumi tidak memberi kita hak untuk menjadi makhluk paling serakah di bumi.
KITA BOLEH MEMBANGUN PERADABAN
Tetapi jangan membangun peradaban dengan cara menghancurkan rumah kehidupan lain.
Kita boleh membangun jalan.
Tetapi pikirkan jalur satwa.
Kita boleh membuka ruang ekonomi.
Tetapi lindungi kawasan penting.
Kita boleh mengembangkan wilayah.
Tetapi lakukan kajian ekologis yang serius.
Kita boleh menggunakan sumber daya alam.
Tetapi jangan lupa bahwa sumber daya itu memiliki batas.
Kemajuan yang baik bukan hanya bertanya berapa banyak yang berhasil kita bangun.
Ia juga bertanya:
berapa banyak yang berhasil kita jaga?
MUNGKIN KITA PERLU MENGUBAH DEFINISI KEMAJUAN
Selama ini kemajuan sering diukur dengan:
gedung yang semakin tinggi,
jalan yang semakin panjang,
mesin yang semakin besar,
produksi yang semakin banyak,
ekonomi yang semakin tumbuh.
Tetapi bagaimana kalau suatu hari kita mulai mengukur kemajuan dengan pertanyaan lain?
Berapa banyak hutan yang berhasil dipertahankan?
Berapa banyak habitat yang tetap utuh?
Berapa banyak spesies yang tetap memiliki ruang hidup?
Berapa banyak sungai yang tetap bersih?
Berapa banyak anak yang tumbuh dengan kepedulian ekologis?
Bukankah itu juga kemajuan?
DARI SEEKOR KUSKUS, KITA BELAJAR TENTANG DIRI SENDIRI
Mungkin kita terlalu cepat melihat kuskus itu sebagai korban.
Padahal bisa jadi ia sedang menjadi guru bagi kita.
Ia tidak berbicara.
Tetapi memberi pelajaran.
Ia tidak menulis.
Tetapi meninggalkan pertanyaan.
Ia tidak berpidato.
Tetapi tatapannya seolah berkata:
“Kalau rumah kalian dihancurkan seperti rumah saya, apakah kalian juga akan diam?”
Dan mungkin itulah yang membuat gambar tersebut begitu menyentuh.
Karena tiba-tiba persoalan lingkungan tidak lagi terasa jauh.
Tidak lagi berupa angka.
Tidak lagi berupa laporan.
Tidak lagi berupa istilah seperti deforestasi, fragmentasi habitat, atau keanekaragaman hayati.
Semuanya berubah menjadi satu makhluk kecil yang sedang kehilangan rumah.
LALU, APA YANG BISA KITA LAKUKAN?
Tidak semua dari kita bisa menghentikan sebuah ekskavator.
Tidak semua dari kita bekerja di bidang konservasi.
Tidak semua dari kita memiliki kekuasaan membuat kebijakan.
Tetapi kita bisa melakukan sesuatu.
Kita bisa peduli.
Kita bisa belajar.
Kita bisa tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Kita bisa mendukung konservasi.
Kita bisa mengurangi perilaku yang merusak lingkungan.
Kita bisa mengajarkan anak-anak mencintai alam.
Kita bisa mendukung pengawasan yang transparan terhadap kegiatan yang berpotensi mengancam habitat.
Dan ketika melihat persoalan lingkungan:
jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?”
Sesekali bertanyalah:
“Apa yang akan hilang jika saya mengambilnya?”
SEBAB BUMI BUKAN WARISAN KITA
Kalimat ini sering terdengar sederhana.
Tetapi maknanya dalam.
Kita bukan pemilik mutlak bumi.
Kita hanya sedang menempatinya.
Begitu pula hutan.
Begitu pula sungai.
Begitu pula laut.
Begitu pula satwa.
Kita datang.
Kita hidup.
Kita menggunakan.
Lalu suatu hari kita pergi.
Pertanyaannya:
apa yang kita tinggalkan?
Hutan yang masih berdiri?
Atau tanah yang gundul?
Sungai yang masih mengalir?
Atau air yang tercemar?
Satwa yang masih hidup?
Atau hanya foto dan cerita tentang spesies yang pernah ada?
MERDEKA SEHARUSNYA JUGA BERARTI BELAJAR MENJADI MANUSIA YANG BERTANGGUNG JAWAB
Mungkin inilah makna kemerdekaan yang perlu kita renungkan kembali.
Merdeka bukan berarti bebas melakukan apa saja.
Merdeka adalah kemampuan menggunakan kebebasan dengan tanggung jawab.
Kita bebas membangun.
Tetapi bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Kita bebas menggunakan sumber daya.
Tetapi bertanggung jawab terhadap keberlanjutan.
Kita bebas mengejar kesejahteraan.
Tetapi tidak dengan mengorbankan seluruh kehidupan lain.
Karena kalau kebebasan kita membuat makhluk lain kehilangan seluruh ruang hidupnya...
mungkin yang perlu diperiksa bukan kebebasannya, tetapi cara kita menggunakannya.
UNTUK KUSKUS DI POHON TERAKHIR ITU...
Saya tidak tahu apa yang akhirnya terjadi pada satwa dalam video tersebut.
Saya juga tidak ingin mengarang akhir cerita yang belum diketahui.
Tetapi saya berharap satu hal:
semoga setelah kamera berhenti merekam, manusia tidak ikut berhenti peduli.
Semoga ada upaya penyelamatan.
Semoga ada evaluasi.
Semoga ada perlindungan habitat.
Semoga ada prosedur yang lebih baik.
Semoga pembangunan tidak lagi melihat satwa sebagai “pengganggu proyek”.
Dan semoga kita tidak menunggu sampai pohon terakhir tumbang untuk sadar bahwa...
yang sedang kita kehilangan bukan sekadar pohon.
Kita sedang kehilangan rumah.
Kita sedang kehilangan ekosistem.
Kita sedang kehilangan keanekaragaman hayati.
Dan pada akhirnya...
kita sedang kehilangan bagian dari diri kita sendiri.
Mungkin, pada peringatan kemerdekaan tahun ini, kita perlu bertanya lebih jauh.
Apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka jika pembangunan masih membuat makhluk lain kehilangan rumah?
Apakah kita benar-benar maju jika kemajuan harus dibayar dengan hilangnya kehidupan?
Apakah kita benar-benar mencintai tanah air jika tanah tempat satwa hidup tidak kita jaga?
Dan mungkin pertanyaan paling sederhana:
Ketika seekor kuskus tidak lagi memiliki pohon untuk dipanjat, sebenarnya siapa yang sedang kehilangan kemerdekaan?
Ia?
Kita?
Atau keduanya?
Sebab mungkin...
kemerdekaan sejati bukan hanya ketika manusia bebas menentukan masa depannya.
Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia cukup bijaksana untuk memastikan bahwa kebebasannya tidak menjadi alasan makhluk lain kehilangan masa depannya.
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️๐ฑ
Mari merdeka tanpa memerdekakan keserakahan.
Mari membangun tanpa menghabiskan kehidupan.
Mari menjadi manusia yang tidak hanya mampu menaklukkan alam, tetapi cukup bijaksana untuk menjaganya. ๐ฎ๐ฉ๐ณ๐ฆ
Catatan: tulisan ini terinspirasi dari rekaman viral kuskus di Merauke. Karena detail spesies, lokasi persis, dan konteks pembukaan lahan belum seluruhnya terverifikasi secara resmi, tulisan ini sengaja tidak menghakimi pihak tertentu. Fokusnya adalah refleksi tentang habitat satwa, konservasi, dan makna kemerdekaan. (Harian Disway)

Comments
Post a Comment