Memilih Menanam Masa Depan
Ketika Sebagian Orang Seusianya Sibuk Bermain, Ia Memilih Menanam Masa Depan
Pelajaran Kepemimpinan dari Seorang Siswa SMP yang Menanam Puluhan Ribu Mangrove
Banyak orang percaya bahwa perubahan besar hanya bisa dilakukan ketika seseorang telah dewasa, memiliki jabatan, atau memegang kekuasaan. Padahal sejarah sering menunjukkan hal yang berbeda. Perubahan justru kerap dimulai oleh mereka yang berani bertindak ketika orang lain masih menunggu. Usia mungkin menentukan seberapa lama kita hidup, tetapi tidak pernah menentukan seberapa besar manfaat yang dapat kita tinggalkan.
Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto, siswa berusia 13 tahun dari SMP Negeri 1 Surabaya, memberikan pelajaran itu dengan cara yang sederhana sekaligus mengagumkan. Melalui gerakan Mangrove Warrior, ia telah membudidayakan 18.200 bibit mangrove dan menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 25.000 pohon hingga akhir tahun 2026. Bukan satu jenis, melainkan berbagai spesies seperti Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia caseolaris, Bruguiera gymnorhiza, Bruguiera cylindrica, dan Ceriops. Di balik angka-angka itu tersimpan satu pesan penting: kepedulian terhadap lingkungan tidak mengenal batas usia.
Bagi sebagian orang, mangrove hanyalah deretan pohon yang tumbuh di pesisir. Namun bagi ekosistem, mangrove adalah benteng kehidupan. Akar-akarnya menahan abrasi, meredam gelombang, menjaga garis pantai, menjadi tempat berkembang biaknya ikan, kepiting, udang, hingga berbagai jenis burung. Bahkan, hutan mangrove dikenal sebagai salah satu ekosistem yang sangat efektif menyerap karbon sehingga berperan penting dalam menghadapi perubahan iklim. Menanam satu mangrove berarti sedang memperkuat pertahanan alam yang akan melindungi banyak kehidupan di masa depan.
Yang membuat kisah Harley begitu istimewa bukan semata jumlah pohon yang berhasil ia tanam. Yang lebih menginspirasi adalah cara ia memandang masa depan. Di usia ketika banyak anak seusianya sibuk mengejar permainan digital, ia justru memilih menanam sesuatu yang mungkin baru akan memberikan manfaat penuh bertahun-tahun kemudian. Ia mengajarkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar slogan pada Hari Bumi atau kegiatan seremonial, melainkan tindakan nyata yang dilakukan dengan konsisten.
Sebagai seorang guru IPA sekaligus pembina Science Expedition Learning (SEL), saya melihat kisah ini sebagai bukti bahwa pendidikan lingkungan tidak boleh berhenti di ruang kelas. Anak-anak tidak cukup hanya mengetahui fungsi mangrove dari buku pelajaran. Mereka perlu merasakan lumpur di bawah kaki, memegang bibit dengan tangan mereka sendiri, dan memahami bahwa setiap pohon yang tumbuh adalah hasil dari kepedulian manusia. Pengetahuan yang dipraktikkan akan jauh lebih membekas daripada pengetahuan yang hanya dihafalkan.
Harley juga mengingatkan kita bahwa kepemimpinan tidak selalu dimulai dari mimbar atau jabatan. Kepemimpinan lahir ketika seseorang berani mengambil langkah pertama untuk memberi manfaat bagi orang lain. Sering kali kita menunggu menjadi "orang besar" agar bisa berbuat sesuatu, padahal dunia justru berubah karena orang-orang biasa yang memilih melakukan hal luar biasa secara konsisten.
Indonesia membutuhkan lebih banyak anak muda seperti Harley. Bukan karena semua harus menanam mangrove, tetapi karena semua dapat menemukan cara masing-masing untuk menjaga bumi. Ada yang menanam pohon, mengurangi sampah plastik, membersihkan sungai, mengembangkan inovasi lingkungan, atau mengedukasi masyarakat. Bentuknya boleh berbeda, tetapi tujuannya sama: mewariskan bumi yang lebih baik kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, pohon mangrove tidak akan pernah mengenang siapa yang menanamnya. Namun manusia akan selalu merasakan manfaatnya. Begitulah hakikat sebuah kebaikan. Ia tumbuh perlahan, berakar dalam, lalu memberi kehidupan kepada banyak orang yang bahkan tidak pernah kita kenal.
Mungkin suatu hari nanti, ketika gelombang besar datang dan pantai tetap berdiri kokoh karena hutan mangrove yang rindang, kita akan menyadari bahwa masa depan itu ternyata pernah ditanam oleh tangan-tangan kecil yang memilih peduli ketika banyak orang masih menganggap lingkungan sebagai urusan orang lain.
"Usia tidak menentukan besarnya pengaruh seseorang. Sebab pohon yang menyelamatkan masa depan sering kali ditanam oleh tangan-tangan muda yang berani memulai hari ini."
— Abdulloh Aup

Comments
Post a Comment