Pohon Diakui Memiliki Hak
Ketika Pohon Diakui Memiliki Hak: Pelajaran dari Kanada tentang Peradaban yang Mulai Belajar Rendah Hati kepada Alam
Di banyak tempat, pohon masih diperlakukan seperti pelengkap kota. Ia ditanam untuk penghias trotoar, peneduh taman, atau pemanis ruang publik. Ketika dianggap mengganggu pembangunan, ia ditebang. Ketika akarnya merusak paving, ia disalahkan. Ketika daunnya gugur, ia dianggap mengotori lingkungan. Pendeknya, pohon kerap dinilai sebatas objek: ada ketika dibutuhkan, hilang ketika dianggap menghambat. Namun sebuah langkah menarik datang dari kota kecil Terrasses-Vaudreuil di Quebec, Kanada. Kota ini mengambil keputusan yang tidak biasa: secara resmi mengakui pohon sebagai makhluk hidup yang memiliki hak.
Hak itu tidak main-main. Pohon diakui memiliki hak untuk hidup, tumbuh, dan beregenerasi. Dengan pengakuan ini, pohon tidak lagi diposisikan hanya sebagai bagian dari lanskap kota, tetapi sebagai elemen kehidupan yang keberadaannya harus dihormati dan dilindungi. Bagi sebagian orang, keputusan ini mungkin terdengar simbolik. Namun jika direnungkan lebih dalam, langkah tersebut sesungguhnya memuat perubahan cara pandang yang sangat besar. Ia bukan sekadar kebijakan lingkungan, melainkan pergeseran etika: dari memandang alam sebagai objek yang bisa dieksploitasi, menjadi memandang alam sebagai subjek yang layak dihormati keberadaannya.
Saya membayangkan, betapa radikalnya keputusan ini di tengah dunia modern yang begitu terbiasa menempatkan manusia sebagai pusat segala-galanya. Selama berabad-abad, manusia membangun peradaban dengan keyakinan bahwa alam tersedia untuk dikelola, dimanfaatkan, dan bila perlu dikorbankan demi kemajuan. Hutan dibuka untuk industri. Sungai diluruskan untuk proyek. Gunung dikeruk demi mineral. Pohon ditebang untuk memberi ruang bagi beton. Semua dilakukan atas nama pembangunan. Dalam logika seperti itu, pohon hanyalah benda hidup yang nilainya diukur sejauh ia berguna bagi manusia.
Namun Terrasses-Vaudreuil seperti sedang mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar: bagaimana jika pohon tidak lagi dilihat hanya dari manfaatnya bagi manusia, tetapi dari haknya sebagai sesama makhluk hidup di bumi? Bagaimana jika pohon tidak sekadar dipandang sebagai penghasil oksigen, penyerap karbon, atau peneduh jalan, tetapi juga sebagai entitas kehidupan yang memiliki hak untuk tetap ada, tumbuh, dan pulih?
Pertanyaan ini penting, sebab ia menyentuh akar dari krisis ekologis yang sedang kita hadapi hari ini. Kerusakan lingkungan sering kali bukan semata-mata karena manusia tidak tahu manfaat pohon. Justru kita tahu pohon penting. Kita tahu pohon menyerap karbon, menahan erosi, menjaga siklus air, mendinginkan udara, dan menjadi rumah bagi berbagai makhluk hidup. Tetapi pengetahuan itu sering kalah oleh cara pandang yang menempatkan alam sebagai sesuatu yang selalu boleh dikorbankan selama ada alasan ekonomi, estetika, atau pembangunan. Dengan kata lain, problem kita bukan hanya kurang informasi ekologis, tetapi juga krisis etika dalam memandang alam.
Keputusan Terrasses-Vaudreuil lahir bukan dari ruang kosong. Pemerintah kota menyadari bahwa pohon memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan lingkungan, terutama dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Wilayah tersebut beberapa kali mengalami banjir, dan pengalaman itu membuat mereka memahami satu hal penting: kota masa depan tidak bisa lagi dibangun dengan memusuhi pepohonan. Ruang hijau, tanah yang mampu menyerap air, serta keberadaan pohon yang menahan panas dan menjaga ekosistem lokal bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak.
Di sinilah pohon memperlihatkan dirinya bukan sekadar simbol hijau, tetapi infrastruktur kehidupan. Pohon membantu menyerap air hujan, mengurangi limpasan, menahan tanah, memberi keteduhan, menyaring udara, dan menurunkan suhu lingkungan. Dalam konteks kota yang makin panas, makin padat, dan makin rentan terhadap bencana iklim, pohon sesungguhnya bekerja sebagai penjaga yang setia. Ia berdiri diam, tetapi diamnya penuh jasa. Ia tidak bersuara, tetapi kehadirannya menyelamatkan banyak hal yang sering tidak kita sadari.
Maka ketika sebuah kota memilih menandatangani Deklarasi Universal Hak Pohon, saya merasa itu bukan sekadar tindakan administratif. Itu adalah pengakuan bahwa hubungan manusia dengan alam perlu ditata ulang. Bahwa peradaban yang matang bukanlah peradaban yang merasa paling berkuasa atas bumi, melainkan yang tahu kapan harus membatasi dirinya sendiri. Peradaban yang maju bukan hanya yang mampu membangun gedung tinggi dan jalan lebar, tetapi juga yang sanggup berkata: ada makhluk lain di bumi ini yang keberadaannya harus dihormati, bukan sekadar dimanfaatkan.
Bagi saya, langkah Terrasses-Vaudreuil ini terasa sangat filosofis. Ia seolah mengajak kita kembali bertanya: siapa sebenarnya yang membuat sebuah kota layak huni? Apakah hanya pemerintah, arsitek, insinyur, dan para perencana kota? Ataukah juga pohon-pohon yang setiap hari bekerja diam-diam menjaga udara tetap layak dihirup, suhu tetap teduh, air tetap terserap, dan kehidupan tetap bertahan? Jika jawaban kita jujur, maka kita akan sampai pada kesadaran bahwa pohon bukan aksesori kota. Ia adalah bagian dari fondasi kehidupan kota itu sendiri.
Dalam konteks pendidikan, gagasan tentang hak pohon ini sangat menarik untuk dibawa ke ruang kelas. Anak-anak perlu diajak memahami bahwa mencintai lingkungan tidak cukup berhenti pada slogan “jangan buang sampah sembarangan” atau “ayo menanam pohon”. Kita perlu menumbuhkan cara pandang yang lebih dalam: bahwa alam bukan sekadar benda yang ada untuk manusia, tetapi ruang hidup bersama yang memiliki martabat. Ketika seorang anak belajar bahwa pohon punya hak untuk hidup dan tumbuh, sesungguhnya ia sedang diajak membangun empati ekologis—kesadaran bahwa hidup di bumi berarti berbagi ruang dengan makhluk lain yang juga berhak untuk ada.
Ini sangat relevan dengan semangat Society 5.0 yang sering kita bicarakan: bagaimana teknologi dan pembangunan harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, tanpa merusak keseimbangan alam. Tetapi saya kira, Society 5.0 tidak akan cukup jika hanya berbicara tentang kecerdasan buatan, digitalisasi, dan inovasi kota cerdas. Kita juga perlu membicarakan kecerdasan ekologis—kemampuan sebuah masyarakat untuk memahami bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologinya berkembang, tetapi juga oleh seberapa bijak ia menjaga pepohonan, sungai, tanah, dan udara.
Terrasses-Vaudreuil mungkin hanya satu kota kecil di Quebec. Tetapi langkahnya menyampaikan gema yang jauh lebih besar daripada luas wilayahnya. Ia memberi pesan bahwa perubahan besar dalam perlindungan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari panggung global. Kadang-kadang, ia justru lahir dari keberanian lokal—dari satu kota kecil yang memutuskan untuk memandang pohon dengan cara yang berbeda. Dan dari sana, dunia belajar bahwa hukum tidak hanya bisa membela manusia, tetapi juga bisa mulai membela alam.
Saya membayangkan, betapa indahnya jika semakin banyak kota di dunia berani mengambil langkah serupa. Bukan sekadar menanam pohon saat seremoni, lalu membiarkannya mati karena tak dirawat. Bukan sekadar memasang slogan hijau di baliho, tetapi terus memberi izin penebangan tanpa pertimbangan ekologis. Melainkan sungguh-sungguh menempatkan pohon sebagai bagian dari subjek yang perlu dilindungi. Sebab dari sanalah kita sedang membangun kota yang tidak hanya modern, tetapi juga beradab.
Pada akhirnya, keputusan Terrasses-Vaudreuil mengajarkan satu hal sederhana tetapi mendalam: bahwa manusia tidak akan pernah benar-benar selamat jika terus menganggap alam hanya sebagai alat. Kita baru akan menjadi peradaban yang dewasa ketika mampu melihat pohon bukan hanya sebagai sesuatu yang berguna, tetapi sebagai kehidupan yang layak dihormati.
Dan mungkin, di tengah krisis iklim, banjir, panas ekstrem, dan kota-kota yang makin sesak, pengakuan terhadap hak pohon bukanlah gagasan yang terlalu jauh. Bisa jadi justru itulah bentuk kewarasan baru yang selama ini kita butuhkan.
Sebab pada akhirnya, kota yang benar-benar maju bukan hanya kota yang memberi hak penuh kepada manusia untuk berkembang, tetapi juga kota yang cukup bijak untuk memastikan pohon tetap punya hak untuk hidup, tumbuh, dan menjaga bumi bersama-sama. Abdulloh Aup

Comments
Post a Comment