Biawak yang Sering Ditakuti
Biawak yang Sering Ditakuti Itu, Ternyata Sedang Menjaga Kita
Di banyak tempat, biawak kerap hadir dengan citra yang kurang bersahabat. Tubuhnya besar, geraknya cepat, lidahnya menjulur, dan penampilannya sering membuat orang spontan mundur beberapa langkah. Bagi sebagian masyarakat, biawak bukan hewan yang ingin didekati. Ia dianggap mengganggu, menakutkan, bahkan kadang dicurigai sebagai ancaman bagi lingkungan sekitar. Tidak sedikit pula yang memilih mengusir, menangkap, atau bahkan memburunya ketika hewan ini muncul di sekitar permukiman.
Namun, alam sering kali menyimpan ironi yang menarik: makhluk yang tampak menakutkan di mata manusia justru bisa menjadi penjaga keseimbangan yang bekerja diam-diam untuk kehidupan kita.
Saya teringat pada sebuah unggahan yang beredar di komunitas pecinta reptil. Dalam unggahan itu tampak sebuah papan sederhana bertuliskan: “Dilarang Memburu Biawak.” Kalimatnya singkat, tetapi maknanya terasa panjang. Ia bukan hanya larangan, melainkan juga tanda bahwa ada kesadaran baru yang mulai tumbuh di tengah masyarakat—kesadaran bahwa keberadaan biawak ternyata tidak sesederhana “hewan liar yang menyeramkan”. Ada fungsi ekologis yang selama ini luput dari perhatian kita.
Dalam keterangan unggahan tersebut dijelaskan bahwa masyarakat setempat mulai memahami manfaat biawak sebagai predator alami yang membantu memangsa tikus dan beberapa jenis ular di lingkungan sekitarnya. Jika informasi ini kita renungkan lebih jauh, maka sesungguhnya biawak sedang menjalankan tugas ekologis yang sangat penting. Ia membantu menekan populasi hewan-hewan tertentu agar tidak berkembang secara berlebihan. Dengan kata lain, biawak bukan sekadar satwa liar yang lewat di semak-semak, melainkan bagian dari mekanisme alam untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Di titik inilah saya merasa kita perlu mengubah cara pandang. Tidak semua hewan yang tampak “seram” adalah ancaman. Kadang yang perlu diubah bukan keberadaan hewannya, melainkan cara manusia memaknai kehadirannya.
Ketika Rasa Takut Mengalahkan Pengetahuan
Hubungan manusia dengan satwa liar memang sering dibangun di atas rasa takut, bukan di atas pengetahuan. Kita cenderung menilai makhluk hidup dari tampilan luarnya: yang lucu dianggap aman, yang jinak dianggap bermanfaat, yang berbulu halus dianggap layak disayangi, sementara yang bersisik, bertaring, atau berwajah “keras” sering ditempatkan dalam kategori berbahaya. Padahal, alam tidak bekerja berdasarkan selera estetika manusia. Alam bekerja melalui fungsi.
Seekor biawak mungkin tidak memenuhi standar “hewan favorit” bagi banyak orang, tetapi ia punya peran ekologis yang nyata. Dalam rantai makanan, biawak membantu menjaga populasi mangsa tetap terkendali. Tikus yang terlalu banyak bisa menjadi masalah serius bagi pertanian, sanitasi, bahkan kesehatan masyarakat. Ular tertentu yang berkembang tanpa kontrol pun dapat menimbulkan risiko tersendiri. Dalam konteks itu, kehadiran biawak menjadi semacam “penjaga sunyi” yang bekerja tanpa tepuk tangan, tanpa penghargaan, dan sering kali tanpa dipahami.
Sayangnya, manusia modern kerap terlalu cepat memberi label: menakutkan berarti berbahaya, liar berarti harus disingkirkan, berbeda berarti mengganggu. Cara berpikir seperti ini tidak hanya keliru secara ekologis, tetapi juga memperlihatkan betapa minimnya literasi kita tentang hubungan antar makhluk hidup di bumi.
Biawak dan Pelajaran tentang Keseimbangan
Ekosistem pada dasarnya adalah jaringan kehidupan yang saling terhubung. Tidak ada makhluk hidup yang berdiri sendiri. Tumbuhan, serangga, burung, reptil, mamalia, tanah, air, udara, dan manusia saling terikat dalam hubungan yang rumit sekaligus indah. Ketika satu unsur terganggu, unsur lain pun ikut merasakan dampaknya. Itulah sebabnya hilangnya predator alami sering kali membawa konsekuensi yang lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Dalam ilmu ekologi, predator bukan sekadar “pemangsa”. Ia adalah pengendali keseimbangan. Predator membantu memastikan bahwa populasi mangsa tidak melonjak secara tak terkendali. Jika predator berkurang, populasi mangsa dapat meningkat drastis dan menimbulkan gangguan baru. Di sinilah biawak mengambil peran penting. Ia mungkin tidak bekerja di ruang rapat, tidak tampil di layar presentasi, tidak pula dipuji di media sosial. Tetapi di semak-semak, di pinggir sungai, di kebun, atau di kawasan hijau, ia sedang menjalankan fungsi ekologis yang penting bagi keberlangsungan kehidupan.
Kita sering membayangkan konservasi sebagai sesuatu yang besar: hutan lindung, taman nasional, satwa langka, atau kampanye internasional tentang perubahan iklim. Padahal konservasi juga bisa dimulai dari hal sederhana: tidak memburu satwa yang sebenarnya sedang membantu ekosistem tetap seimbang. Kadang satu papan bertuliskan “Dilarang Memburu Biawak” justru lebih jujur dalam mengajarkan etika lingkungan daripada seribu slogan yang hanya berhenti di baliho.
Membaca Alam dengan Kesadaran Baru
Bagi saya, kisah tentang biawak ini bukan sekadar kisah tentang reptil. Ini adalah kisah tentang pergeseran kesadaran manusia. Bahwa masyarakat perlahan mulai belajar melihat alam bukan sebagai objek yang bebas dieksploitasi, tetapi sebagai sistem kehidupan yang harus dipahami dan dijaga bersama. Kesadaran seperti ini penting, terutama di tengah zaman ketika manusia merasa terlalu berkuasa atas alam.
Kita hidup di era yang sering membanggakan kecanggihan teknologi. Kita berbicara tentang kecerdasan buatan, Society 5.0, big data, dan masa depan digital. Tetapi semua kecanggihan itu akan kehilangan makna jika manusia semakin jauh dari kebijaksanaan ekologis. Sebab kemajuan tidak hanya diukur dari seberapa canggih alat yang kita ciptakan, melainkan juga dari seberapa dewasa kita memperlakukan kehidupan di sekitar kita.
Dalam kerangka Society 5.0, manusia idealnya menjadi pusat inovasi yang tetap berpijak pada nilai kemanusiaan dan keberlanjutan. Artinya, kemajuan teknologi seharusnya justru membuat kita semakin bijak membaca lingkungan, bukan semakin abai terhadapnya. Kesadaran bahwa biawak adalah bagian penting dari ekosistem adalah bentuk literasi ekologis yang sama berharganya dengan kemampuan mengoperasikan perangkat digital. Bahkan, saya berani mengatakan bahwa pendidikan masa depan tidak cukup hanya melahirkan generasi yang melek teknologi; ia juga harus melahirkan generasi yang melek relasi antara teknologi, manusia, dan alam.
Pendidikan yang Mengajarkan Empati pada Makhluk Hidup
Di sinilah pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat anak belajar rumus, definisi, dan teori yang terputus dari realitas kehidupan. Sekolah perlu menjadi ruang untuk menumbuhkan kepekaan ekologis—kesadaran bahwa setiap makhluk hidup memiliki fungsi dalam jaringan kehidupan, termasuk hewan-hewan yang selama ini kerap disalahpahami.
Bayangkan jika peserta didik diajak mendiskusikan mengapa biawak tidak seharusnya diburu. Mereka tidak hanya belajar tentang rantai makanan atau peran predator dalam ekosistem, tetapi juga belajar tentang empati, keberlanjutan, dan etika hidup berdampingan dengan alam. Mereka belajar bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar hafalan tentang klasifikasi hewan, melainkan cara memahami mengapa keberadaan seekor satwa bisa berdampak pada keseimbangan lingkungan.
Dalam konteks inilah literasi ekologis perlu berjalan beriringan dengan literasi digital, literasi sains, dan literasi sosial. Anak-anak perlu diajak memahami bahwa menjaga lingkungan tidak selalu berarti menanam pohon atau memungut sampah. Kadang menjaga lingkungan juga berarti tidak tergesa-gesa membunuh apa yang tidak kita pahami.
Dari Takut Menjadi Hormat
Mungkin tidak semua orang akan langsung menyukai biawak. Dan itu wajar. Tidak semua relasi manusia dengan satwa liar harus berubah menjadi rasa gemas atau kedekatan. Tetapi setidaknya, relasi itu bisa diubah dari ketakutan yang melahirkan kekerasan menjadi penghormatan yang melahirkan perlindungan. Kita tidak harus memeluk biawak untuk bisa menghargai perannya. Cukup dengan tidak memburunya, tidak merusak habitatnya, dan memahami fungsi ekologisnya, kita sudah mengambil langkah penting untuk menjaga keseimbangan alam.
Sebab pada akhirnya, alam tidak selalu dijaga oleh makhluk-makhluk yang tampak indah di poster konservasi. Kadang ia dijaga oleh satwa yang diam-diam bekerja di balik semak, di tepi sungai, atau di kawasan hijau yang nyaris tak kita perhatikan. Dan biawak adalah salah satunya.
Ia mungkin tidak pernah meminta dipuji. Ia juga tidak akan datang mengetuk pintu rumah untuk menjelaskan jasanya pada manusia. Tetapi keberadaannya sedang berbicara dengan caranya sendiri: bahwa keseimbangan alam sering dijaga oleh makhluk yang justru paling sering kita salahpahami.
Maka, mungkin sudah waktunya kita belajar melihat lebih jernih. Bahwa tidak semua yang menakutkan itu merusak. Bahwa tidak semua yang liar itu berbahaya. Dan bahwa kadang-kadang, makhluk yang kita usir dari pandangan justru sedang bekerja keras menjaga lingkungan tetap aman bagi kehidupan.
Karena itu, ketika suatu hari kita melihat biawak melintas di kawasan hijau, mungkin yang perlu kita ubah pertama kali bukanlah arah langkah biawak itu—melainkan arah cara pandang kita sendiri.
Sebab bisa jadi, hewan yang selama ini kita takuti itu sesungguhnya sedang membantu menjaga bumi tetap seimbang, sementara manusialah yang justru terlalu sering lupa menjaga batasnya sendiri.

Comments
Post a Comment