Ketika Nikel Menggerus Rumah Kehidupan

 


Ketika Nikel Menggerus Rumah Kehidupan: Catatan Kecil tentang Biodiversitas yang Tidak Bisa Diganti

"Aktif, Kreatif, Cinta Lingkungan."

Di setiap kegiatan Science Expedition Learning (SEL), saya selalu mengajak peserta didik melakukan satu hal sederhana.

Mengamati.

Mengamati burung yang bertengger di dahan.

Mengamati lumut yang tumbuh di batang pohon.

Mengamati kupu-kupu yang berpindah dari satu bunga ke bunga lainnya.

Bagi sebagian orang, itu hanyalah tumbuhan dan hewan biasa.

Namun bagi seorang pecinta lingkungan, setiap makhluk hidup adalah bagian dari sebuah cerita besar yang disebut biodiversitas.

Sayangnya, cerita itu hari ini sedang menghadapi tantangan yang tidak sederhana.

Ketika Alam Menjadi Persimpangan Kepentingan

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia.

Sulawesi dan Maluku, misalnya, merupakan rumah bagi banyak spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di bumi.

Anoa.

Babirusa.

Maleo.

Kuskus.

Berbagai jenis anggrek.

Burung-burung endemik.

Hingga ribuan tumbuhan yang masih terus diteliti para ilmuwan.

Namun, laporan terbaru dari Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) menunjukkan bahwa sebagian kawasan penting biodiversitas tersebut kini menghadapi tekanan akibat ekspansi pertambangan nikel.

Kajian AEER mencatat 28 dari 206 Key Biodiversity Areas (KBA) di Sulawesi dan Maluku bertumpang tindih dengan 109 konsesi pertambangan nikel, dengan luas irisan sekitar 152 ribu hektare.

Di Halmahera, sekitar 45.742 hektare kawasan hutan lindung berada di dalam wilayah izin usaha pertambangan beberapa perusahaan. Sementara di Morowali, lebih dari 133 ribu hektare hutan berada dalam area konsesi tambang nikel. Laporan yang sama juga menyoroti tekanan terhadap hutan di Kalimantan Timur akibat konsesi batu bara. Temuan-temuan ini dipaparkan dalam media briefing AEER bersama Working Group ICCAs Indonesia pada Juli 2026.

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik.

Di balik setiap hektare hutan, ada kehidupan yang mungkin sedang kehilangan rumahnya.

Biodiversitas Tidak Sama dengan Banyaknya Pohon

Sering kali kita mengira hutan hanya terdiri atas pepohonan.

Padahal, hutan adalah sebuah jaringan kehidupan.

Seekor burung mungkin bergantung pada satu jenis pohon tertentu untuk bersarang.

Seekor serangga mungkin hanya dapat hidup pada satu jenis bunga.

Jamur membantu menguraikan daun yang gugur.

Akar pepohonan menjaga tanah tetap kokoh.

Mikroorganisme menyuburkan tanah yang menjadi tempat tumbuh generasi tumbuhan berikutnya.

Ketika satu bagian hilang, bagian lain ikut terdampak.

Ekosistem bekerja layaknya sebuah orkestra.

Jika satu alat musik berhenti dimainkan, keseluruhan harmoni dapat berubah.

Nikel Penting, Tetapi Alam Juga Penting

Kita juga perlu bersikap adil dalam memahami persoalan ini.

Nikel merupakan salah satu mineral strategis yang sangat dibutuhkan dunia.

Bahan baku baterai kendaraan listrik.

Teknologi penyimpanan energi.

Berbagai perangkat elektronik modern.

Semuanya membutuhkan nikel.

Artinya, kebutuhan terhadap mineral ini memang nyata.

Namun pertanyaan pentingnya bukanlah "Perlukah nikel?"

Melainkan,

"Bagaimana cara memperoleh nikel tanpa mengorbankan kekayaan hayati yang tidak dapat digantikan?"

Di sinilah pembangunan berkelanjutan menemukan maknanya.

Kemajuan ekonomi tidak semestinya berjalan dengan menghilangkan fondasi ekologis yang menopang kehidupan.

Mengapa Biodiversitas Sulit Digantikan?

Sebatang pohon dapat ditanam kembali.

Namun sebuah ekosistem yang telah terbentuk selama ratusan bahkan ribuan tahun tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat.

Seekor maleo yang kehilangan habitatnya tidak bisa begitu saja berpindah ke tempat lain.

Tumbuhan endemik yang punah tidak dapat dibuat kembali oleh manusia.

Kehilangan biodiversitas bukan sekadar kehilangan jenis makhluk hidup.

Kita kehilangan pengetahuan.

Kehilangan keseimbangan alam.

Kehilangan potensi obat-obatan.

Kehilangan sumber pangan.

Bahkan kehilangan bagian dari identitas bangsa yang dikenal sebagai negara megabiodiversitas.

Literasi Lingkungan Adalah Tanggung Jawab Kita

Di Science Expedition Learning (SEL), kami selalu percaya bahwa mencintai lingkungan tidak cukup hanya dengan menanam pohon.

Kita juga perlu belajar membaca persoalan lingkungan secara utuh.

Tidak semua isu lingkungan sesederhana memilih antara pembangunan atau konservasi.

Banyak persoalan membutuhkan dialog.

Membutuhkan data.

Membutuhkan kajian ilmiah.

Membutuhkan keberanian untuk mencari jalan tengah yang menghormati alam sekaligus menjawab kebutuhan manusia.

Itulah sebabnya literasi lingkungan menjadi sangat penting.

Anak-anak perlu belajar bahwa setiap keputusan pembangunan memiliki konsekuensi ekologis.

Sebaliknya, setiap upaya konservasi juga perlu mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Semakin luas wawasan kita, semakin bijak pula keputusan yang dapat kita ambil.

Bumi Sedang Menguji Kebijaksanaan Kita

Barangkali generasi kita tidak akan mampu menghapus seluruh persoalan lingkungan.

Namun kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana kita menyikapinya.

Apakah kita hanya menjadi penonton ketika biodiversitas perlahan menghilang?

Ataukah kita memilih menjadi generasi yang belajar, memahami, lalu bertindak dengan penuh tanggung jawab?

Karena pada akhirnya, bumi tidak hanya diwariskan oleh leluhur kepada kita.

Bumi sedang kita pinjam dari anak-anak yang akan hidup setelah kita.

Maka menjaga biodiversitas bukan hanya soal melindungi satwa atau pepohonan.

Ia adalah cara kita menjaga masa depan kehidupan itu sendiri.

"Ketika satu spesies hilang, alam kehilangan satu cerita. Ketika satu hutan rusak, bumi kehilangan satu ruang kehidupan. Dan ketika manusia berhenti peduli, masa depan kehilangan harapan."

Science Expedition Learning (SEL)
**"Aktif • Kreatif • Cinta Lingkungan"

Comments

Popular Posts