Menanam Pohon, Menumbuhkan Harapan

 


Menanam Pohon, Menumbuhkan Harapan

Ketika Sebatang Bibit Menjadi Awal Kembalinya Hutan Sumatra

Hutan tidak hilang dalam semalam.

Ia berkurang sedikit demi sedikit. Pohon demi pohon ditebang. Lahan demi lahan berubah fungsi. Satwa kehilangan rumahnya. Mata air mulai mengering. Dan perlahan, keseimbangan alam yang telah terbentuk selama ratusan tahun mulai terganggu.

Namun, kabar baiknya adalah harapan juga dapat tumbuh sedikit demi sedikit.

Dimulai dari satu lubang tanam.

Satu bibit pohon.

Lalu menjadi ribuan.

Kemudian ratusan ribu.

Begitulah perjalanan besar mengembalikan hutan Sumatra resmi dimulai.

Sebanyak 2.000 pohon ditanam di Bireuen, Aceh sebagai langkah pertama menuju target ambisius 250.000 pohon yang akan menghijaukan 7 desa dengan luas restorasi mencapai hampir 150 hektar.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya statistik.

Namun bagi alam, setiap pohon adalah kehidupan baru.


Sebagai bagian dari Science Expedition Learning (SEL), saya selalu percaya bahwa konservasi tidak dimulai ketika seseorang menjadi ilmuwan.

Konservasi dimulai ketika seseorang mulai peduli.

Saat seorang anak menanam bibit pertamanya.

Saat seorang guru mengajak muridnya mengamati pohon.

Saat masyarakat menyadari bahwa hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan, melainkan rumah bagi ribuan makhluk hidup.

Menanam pohon sesungguhnya bukan hanya memperbaiki bentang alam.

Kita sedang memperbaiki hubungan manusia dengan alam.


Program restorasi ini tidak sekadar menanam satu jenis tanaman.

Berbagai spesies dipilih sesuai perannya dalam ekosistem.

Pohon pionir seperti bambu, lamtoro, dan gamal akan membantu mempercepat pemulihan lahan yang rusak.

Sementara pohon-pohon agroforestri diharapkan mampu menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa harus mengorbankan kelestarian hutan.

Inilah pelajaran penting dalam ekologi.

Alam tidak pernah bekerja sendirian.

Setiap spesies memiliki perannya.

Setiap tumbuhan saling mendukung.

Dan setiap ekosistem bertahan karena adanya keseimbangan.


Yang membuat gerakan ini semakin bermakna adalah semangat kolaborasinya.

Restorasi hutan tidak mungkin dilakukan oleh satu orang.

Tidak cukup hanya oleh pemerintah.

Tidak cukup hanya oleh organisasi lingkungan.

Ia membutuhkan tangan-tangan yang mau bekerja bersama.

Kolaborasi antara Arei Outdoor Gear, WWF-Indonesia, UK Embassy, para relawan, masyarakat lokal, hingga ribuan orang yang berdonasi dan menyebarkan semangat gerakan ini menunjukkan bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama.

Setiap bibit yang ditanam adalah hasil gotong royong.

Setiap pohon yang tumbuh adalah simbol bahwa harapan masih hidup.


Dalam dokumentasi kegiatan, tampak pula seekor gajah yang ikut berada di lokasi penanaman.

Namun penting untuk dipahami bahwa gajah tersebut merupakan gajah jinak yang berada di bawah pengawasan langsung mahout (pawang gajah). Kehadirannya dilakukan dengan memperhatikan keselamatan satwa maupun manusia selama proses restorasi berlangsung.

Bagi saya, pemandangan itu memiliki makna yang sangat dalam.

Gajah Sumatra bukan sekadar satwa.

Ia adalah bagian dari identitas hutan.

Ketika hutannya hilang, gajah kehilangan rumah.

Dan ketika hutan kembali tumbuh, sesungguhnya kita sedang mengembalikan ruang hidup bagi seluruh keanekaragaman hayati.


Di SEL, kami sering mengatakan bahwa pembelajaran terbaik tidak selalu terjadi di dalam ruang kelas.

Kadang ia lahir di tengah hutan.

Di bawah terik matahari.

Dengan tangan yang kotor oleh tanah.

Dan hati yang dipenuhi harapan.

Karena ketika seorang anak menanam pohon, ia tidak hanya belajar tentang fotosintesis.

Ia belajar tentang tanggung jawab.

Tentang kesabaran.

Tentang kehidupan.

Dan tentang warisan yang akan ia tinggalkan untuk generasi berikutnya.


Mungkin kita tidak mampu menanam 250.000 pohon seorang diri.

Namun kita selalu mampu menanam satu pohon.

Mengurangi satu sampah plastik.

Menghemat satu liter air.

Mengajarkan satu anak untuk mencintai alam.

Perubahan besar memang selalu terdengar menakutkan.

Tetapi sejarah lingkungan selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Hari ini mungkin hanya 2.000 pohon.

Beberapa tahun lagi, semoga ia menjelma menjadi hutan yang kembali hijau.

Menjadi rumah bagi burung-burung yang bernyanyi setiap pagi.

Menjadi tempat berlindung bagi gajah, harimau, dan berbagai satwa liar lainnya.

Menjadi penjaga sumber air bagi masyarakat.

Dan menjadi bukti bahwa manusia masih mampu memperbaiki apa yang pernah ia rusak.

Karena sesungguhnya, menanam pohon bukan hanya tentang menghijaukan bumi.

Menanam pohon adalah cara kita menanam harapan.

Harapan bahwa anak-anak di masa depan masih dapat mendengar suara burung di hutan, melihat gajah berjalan bebas di habitatnya, dan menikmati bumi yang tetap layak dihuni.

"Hutan tidak meminta kita melakukan keajaiban. Ia hanya meminta kita mulai peduli. Sebab setiap pohon yang ditanam hari ini adalah surat cinta bagi bumi dan warisan terbaik untuk generasi yang akan datang."

— Abdulloh Aup | Science Expedition Learning (SEL)

Comments

Popular Posts