Ketika Alam Mengajukan Gugatan kepada Manusia


Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026: Ketika Alam Mengajukan Gugatan kepada Manusia

5 Juni. Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Setiap tahun kita memperingatinya dengan slogan yang berganti-ganti. Ada poster hijau. Ada kampanye menanam pohon. Ada seminar, webinar, dan unggahan media sosial yang penuh dengan tagar penyelamatan bumi.

Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah bumi benar-benar sedang diselamatkan?

Indonesia dalam beberapa tahun terakhir seolah menjadi ruang kelas raksasa yang mengajarkan satu pelajaran pahit: alam selalu berbicara, tetapi manusia sering terlambat mendengarkannya.

Banjir datang silih berganti. Longsor menelan desa-desa. Kekeringan meluas di berbagai wilayah. Kebakaran hutan berulang. Cuaca semakin sulit diprediksi. Laut naik perlahan menggerus pesisir. Di banyak tempat, sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi saluran limbah.

Ironisnya, sebagian besar bencana tersebut bukan semata-mata bencana alam. Ia adalah akumulasi panjang dari keputusan-keputusan manusia.

Hutan dibuka tanpa kendali.

Pegunungan dilubangi.

Sungai dipersempit.

Lahan hijau dikorbankan demi proyek-proyek yang sering kali lebih mengutamakan keuntungan jangka pendek dibanding keberlanjutan jangka panjang.

Alam tidak pernah lupa mencatat semuanya.

Ketika hujan turun, air hanya mengikuti hukum alam. Yang berubah adalah manusianya. Kita yang menghilangkan daerah resapan. Kita yang menebangi pohon. Kita yang mengubah bentang alam menjadi kawasan beton tanpa memikirkan konsekuensinya.

Di sinilah persoalan lingkungan tidak lagi menjadi persoalan ekologi semata. Ia berubah menjadi persoalan moral.


Dalam berbagai diskusi pendidikan yang selama ini saya lakukan, saya selalu sampai pada satu kesimpulan sederhana: krisis lingkungan sesungguhnya adalah krisis cara berpikir.

Kita hidup di era Society 5.0. Teknologi berkembang luar biasa cepat. Artificial Intelligence mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Canva memungkinkan guru menciptakan media pembelajaran yang sebelumnya hanya bisa dibuat oleh desainer profesional. Informasi mengalir tanpa batas.

Tetapi kemajuan teknologi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.

Kita bisa memiliki kecerdasan buatan yang canggih, namun tetap gagal membangun kesadaran ekologis.

Kita bisa memiliki gedung tinggi, jalan tol panjang, dan pusat perbelanjaan megah, namun kehilangan hutan yang menjadi paru-paru kehidupan.

Kita bisa berbicara tentang transformasi digital sambil membiarkan sungai dipenuhi sampah.

Inilah paradoks zaman kita.


Beberapa waktu terakhir publik juga disuguhi berbagai kontroversi sosial, mulai dari kasus korupsi yang terus berulang hingga perdebatan tentang program-program kesejahteraan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pada prinsipnya, tidak ada yang salah dengan upaya menyejahterakan rakyat. Tidak ada yang salah dengan memberi makan anak-anak bangsa. Bahkan itu adalah kewajiban negara.

Namun keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari besarnya anggaran yang dikeluarkan, melainkan dari integritas dalam pengelolaannya.

Karena sejarah Indonesia telah menunjukkan bahwa korupsi memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah kebijakan baik menjadi masalah baru.

Korupsi bukan hanya mencuri uang negara.

Korupsi mencuri masa depan.

Korupsi mencuri kesempatan anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Korupsi mencuri kesempatan masyarakat mendapatkan lingkungan hidup yang layak.

Korupsi mencuri hak generasi mendatang untuk menikmati sumber daya alam yang seharusnya diwariskan.

Dalam perspektif ini, kerusakan lingkungan dan korupsi sesungguhnya memiliki akar yang sama: ketamakan.


Belakangan publik juga ramai memperbincangkan film Pesta Babi. Terlepas dari berbagai perdebatan yang muncul, film tersebut menyajikan refleksi menarik mengenai kerakusan, kekuasaan, dan sisi gelap manusia.

Babi dalam banyak simbol budaya sering diasosiasikan dengan nafsu yang tidak mengenal batas.

Ketika manusia kehilangan kendali atas hasratnya, maka yang muncul bukan lagi pembangunan, melainkan eksploitasi.

Bukan lagi kemajuan, melainkan penghancuran.

Bukan lagi kesejahteraan, melainkan ketimpangan.

Bukankah kerusakan lingkungan yang kita saksikan hari ini juga berakar pada ketidakmampuan manusia membatasi dirinya sendiri?

Hutan ditebang karena ingin lebih banyak keuntungan.

Sungai dirusak karena ingin lebih banyak produksi.

Laut dicemari karena ingin lebih banyak konsumsi.

Semua dilakukan atas nama pertumbuhan.

Tetapi pertumbuhan yang mengabaikan keberlanjutan pada akhirnya adalah jalan menuju kehancuran.


Sebagai seorang pendidik, saya percaya bahwa solusi terbesar tidak lahir dari teknologi, melainkan dari pendidikan.

Pendidikan yang tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga mengajarkan cara menjadi manusia.

Pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan cerdas, tetapi juga menghasilkan warga yang memiliki empati ekologis.

Pendidikan yang tidak hanya mengejar skor, melainkan membangun kesadaran.

Guru masa depan tidak cukup hanya mengajarkan matematika, bahasa, atau sains.

Guru masa depan harus menjadi penjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Ia harus mengajarkan bahwa menanam pohon adalah tindakan moral.

Bahwa membuang sampah sembarangan adalah persoalan etika.

Bahwa menjaga sungai adalah bentuk cinta kepada generasi yang belum lahir.

Bahwa teknologi harus melayani kehidupan, bukan sebaliknya.


Hari ini, 5 Juni, Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Mungkin yang dibutuhkan bumi bukan sekadar lebih banyak slogan.

Bukan lebih banyak spanduk.

Bukan lebih banyak seremoni.

Melainkan lebih banyak kesadaran.

Karena pada akhirnya bumi tidak membutuhkan manusia untuk bertahan hidup.

Sebaliknya, manusialah yang membutuhkan bumi.

Dan ketika suatu hari anak cucu kita bertanya apa yang telah kita lakukan saat hutan-hutan mulai hilang, sungai-sungai mulai tercemar, dan bencana datang semakin sering, semoga kita tidak menjawab:

"Kami sibuk merayakan kemajuan, tetapi lupa menjaga kehidupan." 🌱📚🌏

Oleh: Abdulloh Aup

Guru yang biasa saja 

Comments