Seruan dari Bumi Sumatera
Seruan dari Bumi Sumatera: Saatnya Mengevaluasi Harga Sebuah Kebijakan
"Pray for Sumatera" bukan lagi sekadar tagar belasungkawa. Ia adalah ratapan dan seruan mendesak dari bumi yang terluka, dari masyarakat yang kehilangan segalanya, dan dari alam yang telah mencapai batas kemampuannya. Kita menyaksikan tragedi besar di hadapan mata kita. Banjir bandang mematikan telah melanda puluhan kabupaten di berbagai provinsi di Sumatera, menyeret korban jiwa hingga mencapai ratusan—sebuah angka yang menyakitkan, dan mungkin akan terus bertambah seiring pencarian korban hilang.
Harga yang Harus Dibayar
Kita berdiri di atas puing-puing. Puing-puing rumah, jembatan, dan kehidupan. Setelah jutaan hektar hutan alami dialihkan menjadi perkebunan, konon demi penguatan ekonomi, kita kini dihadapkan pada kenyataan pahit: derasnya air bah yang membawa benda-benda keras, termasuk kayu-kayu gelondongan, menghancurkan infrastruktur seolah tak berarti.
Kepada pihak-pihak berwenang yang telah mengeluarkan izin dan memegang kendali kebijakan, saatnya kita duduk dan melakukan perhitungan jujur. Berapa keuntungan materi yang dihasilkan dari alih fungsi hutan tersebut? Dan berapa harga yang kini harus kita bayar dalam bentuk kerugian materi yang tak terhitung, dan yang lebih penting, dalam nyawa anak bangsa? Itu baru hitungan materi. Kerugian imaterial—trauma, hilangnya mata pencaharian, dan rusaknya ekosistem—jauh lebih besar dan tak ternilai harganya.
Mengapa Kita Melupakan Sains?
Sejak kita kecil, kita belajar sains, kita mengenal konsep ekologi, dan memahami peran vital hutan sebagai penjaga air. Kebenaran sederhana ini diajarkan di bangku sekolah dasar. Namun, mengapa saat kita memegang kekuasaan, kita seolah enggan menerapkan, bahkan melupakannya? Apakah kepentingan ekonomi jangka pendek telah membutakan kita dari prinsip-prinsip keseimbangan alam yang fundamental?
Tinggalkan "Echo Chamber" dan Mulai Berbenah
Bapak dan Ibu pemegang kebijakan, sudah waktunya bagi kita untuk keluar dari "echo chamber"—ruang gema di mana hanya suara-suara yang mendukung kebijakan kita yang terdengar. Mengapa terus menerus denial dan memfilter suara-suara kritis yang berbeda pandangan?
Keseimbangan sejati, seperti halnya kehangatan yang merupakan pertemuan panas dan dingin, seringkali ditemukan dari perjumpaan pandangan yang ekstrim. Mungkin mereka yang telah terbiasa dengan "bid'ah lingkungan"—kebijakan yang merusak lingkungan atas nama pembangunan—perlu mendengarkan para "wahabi lingkungan"—mereka yang menuntut konservasi ketat—untuk mencari titik temu dan jalan keluar yang seimbang.
Jadikan bencana besar ini sebagai sarana evaluasi diri yang jujur. Akui apa yang salah dari langkah-langkah yang telah ditempuh. Kita menuntut satu hal: Legowo.
Legowo, siap meminta maaf, siap memperbaiki, dan melakukan pivot menuju jalan yang benar. Jalan yang menghargai keseimbangan alam, jalan yang meletakkan keberlanjutan dan keselamatan rakyat di atas segalanya.
Ini adalah seruan. Sumatera membutuhkan pemulihan, tapi yang paling utama, Sumatera membutuhkan perubahan kebijakan yang fundamental.
Abdulloh Aup / Aupdentata / Abdulloh, S.Pd., M.Pd

Comments
Post a Comment