Membaca Fenomena Pesta Babi di Tengah Indonesia yang Ramai
Ketika Film Lebih Diperdebatkan daripada Isinya: Membaca Fenomena Pesta Babi di Tengah Indonesia yang Ramai
Prolog
Ada pola yang berulang setiap kali sebuah karya menyentuh isu yang sensitif.
Yang pertama ramai dibahas
bukan:
datanya,
argumennya,
atau kenyataan yang ingin ditampilkan.
Tetapi justru:
judulnya,
siapa yang membuat,
siapa yang mendanai,
siapa yang mendukung,
dan:siapa yang merasa terganggu.
Lalu perlahan diskusi bergeser.
Dari:
“apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
menjadi:
“bolehkah film ini dibuat?”
Dan mungkin,
itulah yang sedang terjadi pada film dokumenter
Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita
yang beberapa waktu terakhir ramai diperbincangkan di Indonesia.
Film Ini Viral Bukan Hanya Karena Judulnya
Kalau melihat perdebatan publik,
ada dua ruang diskusi yang berjalan bersamaan.
Di satu sisi,
banyak orang memperdebatkan:
judul yang dianggap provokatif,
poster,
proses distribusi,
pendanaan,
hingga pertanyaan tentang objektivitas narasi.
Di sisi lain,
film ini justru membawa isu yang jauh lebih luas:
deforestasi,
masyarakat adat,
konflik penguasaan lahan,
pembangunan skala besar,
relasi negara–korporasi–masyarakat,
dan:pengalaman komunitas lokal di Papua Selatan. (Wikipedia)
Dan di sinilah sesuatu yang menarik muncul.
Publik seperti terbelah:
antara membahas legitimasi film
dan membahas substansi film.
Ketika Film Dokumenter Menjadi Cermin yang Tidak Selalu Nyaman
Secara umum,
film dokumenter berbeda dengan film fiksi.
Ia tidak selalu hadir
untuk memberi jawaban.
Kadang ia hadir:
untuk memunculkan pertanyaan.
Dan pertanyaan memang sering membuat tidak nyaman.
Film ini disebut menyoroti pengalaman masyarakat adat
di wilayah Papua Selatan,
terutama terkait perubahan ruang hidup,
proyek skala besar,
dan dinamika sosial-politik yang mengikutinya.
Namun seperti banyak karya dokumenter lain,
ia juga menuai kritik:
bahwa sudut pandangnya dianggap tidak lengkap,
terlalu menonjolkan satu sisi,
atau berpotensi membentuk opini tertentu.
Dan kritik seperti itu:
secara prinsip,
juga bagian sehat dari ruang publik.
Masalahnya Bukan Apakah Kita Setuju atau Tidak
Yang menarik untuk direnungkan justru bukan:
apakah semua isi film ini benar?
Karena film dokumenter pun
tetap merupakan:
hasil seleksi narasi,
pemilihan sudut pandang,
dan keputusan kreatif.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:
apakah masyarakat cukup dewasa
untuk menonton,
menganalisis,
lalu membangun pendapat sendiri?
Karena ada dua risiko besar.
Yang pertama:
menerima semua isi film tanpa berpikir.
Yang kedua:
menolak semuanya tanpa melihat isinya.
Keduanya sama-sama berbahaya.
Indonesia Selalu Sulit Berdamai dengan Karya yang Mengganggu Kenyamanan
Sejarah menunjukkan:
karya yang menyentuh:
politik,
lingkungan,
agama,
identitas,
atau:relasi kekuasaan—
sering menimbulkan perdebatan.
Bukan karena masyarakat tidak cerdas.
Tetapi karena karya seperti itu
menyentuh sesuatu yang lebih dalam:
cara kita memahami kenyataan.
Dan sering kali,
yang membuat orang tidak nyaman
bukan karena informasi baru.
Tetapi karena:
informasi itu bertabrakan
dengan keyakinan yang selama ini dipegang.
Film Tidak Harus Selalu Disetujui, Tapi Layak Dibaca dengan Kepala Dingin
Mungkin kita tidak sepakat dengan:
judulnya.
Mungkin kita tidak setuju dengan:
metodenya.
Mungkin kita mempertanyakan:
sudut pandangnya.
Itu sah.
Tetapi akan lebih sehat
jika perdebatan bergerak dari:
“siapa yang membuat?”
menjadi:
“argumen mana yang perlu diuji?”
Karena pada akhirnya,
film hanyalah pintu.
Yang menentukan arah diskusi berikutnya
tetap:
publik.
Refleksi: Apakah Kita Sedang Menolak Filmnya atau Menghindari Pertanyaannya?
Kadang yang membuat sebuah karya viral
bukan kualitas visualnya.
Tetapi karena ia memaksa orang bertanya:
siapa yang diuntungkan?
siapa yang dirugikan?
siapa yang didengar?
siapa yang selama ini tidak terlihat?
Dan pertanyaan seperti itu
jarang punya jawaban sederhana.
Endgame
Pada akhirnya,
Pesta Babi mungkin bukan film yang akan disukai semua orang.
Dan memang tidak semua karya harus disukai.
Tetapi mungkin,
nilai terbesarnya bukan terletak pada:
apakah kita setuju dengan semua isinya.
Melainkan:
apakah kita masih mau membuka ruang
untuk berdiskusi tanpa buru-buru membungkam,
tanpa buru-buru memuja,
dan tanpa buru-buru menghakimi.
Karena masyarakat yang dewasa
bukan masyarakat yang selalu sepakat.
Tetapi masyarakat yang mampu:
menonton dengan kritis,
berbeda pendapat tanpa takut,
dan tetap cukup rendah hati
untuk menerima bahwa
setiap cerita—
selalu punya lebih dari satu sudut pandang.
Oleh: Abdulloh Aup @aupdentata

Comments
Post a Comment